Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

Must be proud to be Indonesian!


Proffesor termuda di Amerika adalah Orang Indonesia

NAMA lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD. Setahun lalu, ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut. Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai professor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri Paman Sam, itu. Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.

Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional. Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC.


Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia. Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks (buku wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.

Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai sekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Kemana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya. "Saya sangat cinta tanah kelahiran saya. Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia," katanya, serius.

Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang dicap sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari basa-basi. "Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras," kata Nelson menjawab koran ini.

Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU). Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. "Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya l ebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics," jelasnya.

Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Disana, 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-kobar dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson sangat bersahaja dan bahkan suka merendah.

Busana kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan pantalon. Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya sering tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara. Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya di kampus.

Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak sedikit insane kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.

"Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah," ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya. September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology. "Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh University ini," jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus.

Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di negeri itu dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga ada imigrannya, yakni Mente ri Tenaga Kerja Elaine L. Chao.Imigran asal Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi menteri selama sejarah AS.

Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1 hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang electrical engineering. Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua orang tuanya dan kakeknya. "Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali," ujarnya.

Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. "Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu," ungkapnya. 

Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. "Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu," jelasnya. Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit ya ng tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah? Nama Nelson Tansu memang cukup unik.

Sekilas, sama sekali nama itu tidak mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri tertentu. Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca, mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut. Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki. Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya Kemal Ataturk.

Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok . Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia "kembali" mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang. Lebih-lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya.

"Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia. Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia," jelas Nelson. Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang "Tansu", sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. "Saya suka dengan nama Tansu, kok," kata Nelson dengan nada bangga.

Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, dan selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1. Selebihnya ? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. "Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas," katanya.

Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak sulit memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di AS. Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor (profesor muda) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada usia 25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun? Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang status guru besar.

Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset Nelson yang dipatenkan di AS. Kemudian, dua buku teksnya untuk mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan. Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah. Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan terperanjat. Cukup fenomenal. "Sejak SD kelas 3 atau kelas 4 di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil," ujarnya dengan mimik serius.

Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabi Nelson cilik. "Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu," jelas Nelson penuh kagum.

Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan dan papan atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi profesor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor yang resume (CV)-nya juga hebat-hebat. "Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu," ujarnya. Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? "Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he...he...he...," katanya, menyelipkan senyum.

Riwayat hidup dan reputasinya memang wow. Nelson sempat menjadi incaran dan malah "rebutan" kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandang sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University. Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain. "Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices. Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset.”

Miya Irawati
Harustie 7 F 97/3
00980 Helsinki
Finland

--
Biography
Nama: Prof Nelson Tansu, Ph.D

Lahir:Medan, 20 Oktober 1977

Tinggi / berat:173 / 63 kg

Orang Tua:Iskandar Tansu (Ayah) / Lily Auw (Ibu)
Saudara:Tony Tansu (abang) dan Inge Tansu (adik). Keduanya lulusan Ohio State University (OSU). 

Pekerjaan:

Assistant Professor, Department of Electrical and Computer Engineering
Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University
Tema Utama

Penelitian:

Optoelectronic Devices for Optical and Free-Space Communications, and Quantum Nano-Photonic Material and Devices for Quantum Information Processing”

Pendidikan:

- Ph.D. in Electrical Engineering, University of Wisconsin-Madison, 1998 – Mei 2003

- B.S. in Applied Mathematics, Electrical Engineering, and Physics, University of Wisconsin-Madison, 1995 – 1998

- SMA Sutomo 1 (Medan, North Sumatra, Indonesia), 1992 – 1995 

Penghargaan:

- Finalis Tim Olimpiade Fisika 2005

- Lulusan terbaik SMA Sutomo 1, Medan

- Tau Beta Pi Engineering Honors (1998), University of Wisconsin-Madison

- WARF Graduate University Fellowships (Graduate School, University of Wisconsin-Madison)

- VILAS Graduate University Fellowships (Graduate School, University of Wisconsin-Madison)

- Graduate Dissertator Travel Funding Award (Graduate School, University of Wisconsin-Madison)

- The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Award-1st Prize (University of Wisconsin-Madison)

- Sigma Xi Scientific Research Society Honors (2004), Lehigh University
Who’s Who in Science and Engineering (since 2005), Inducted in 2004.

Organisasi Profesi:

- Institute of Electrical and Electronics Engineers, Laser and Electro-Optics Society (IEEE-LEOS)

- The International Society for Optical Engineering (SPIE)

- Optical Society of America (OSA)

- Tau Beta Pi Engineering Honor Society 

Aktivitas Profesional:

- Technical Program Committee Member – The 7th Joint Conference on Information Sciences (JCIS) 2003
-  The 2nd Symposium on Photonics, Networking and Computing (PNC) 2003, Cary, NC, USA, September 2003.

Jurnal:

-IEEE Photonic Technology Letters (published by IEEE Lasers and Electro-Optics Society)

-IEEE Journal of Quantum Electronics (published by IEEE Lasers and Electro-Optics Society)

-IEEE Journal of Selected Topics in Quantum Electronics (published by IEEE Lasers and Electro-Optics Society)

-IEEE Electronics Letters (published by IEE, UK)
- IOP Semiconductor Science and Technology (published by Institute of Physics, Bristol, UK) 



10 signs that it's time to look for a new job


This article was copyed from Tech Republic, maybe that can be used as consideration for you that think to quit from your current job. Good luck guys


-----------
Author: Becky Roberts
Changing jobs can be a life-altering decision that requires considerable courage, especially in the current economy — but it’s easier if you’re convinced it’s the right thing to do. IT pro Becky Roberts put together a list of factors that helped her decide on a career shift.


Before I quit a job I had held for nine years and four months, I gave the topic of job-changing a great deal of thought. However bad a job may be and however much you dread Monday mornings, making the decision to leave the job — especially one you have held for some years — is never an easy process. Even if your boss is an ogre, your pay raises haven’t kept up with the cost of living, and your skills haven’t been relevant for six years, you know you can handle this job.

There’s a large degree of comfort in your current responsibilities and the company you’re familiar with. Part of your brain knows you’re capable of more, but another part is fraught with self-doubt and wakes you from sleep at 2:00 AM in a cold sweat, beaming an image of you in your new job frozen by ignorance, out of your depth, and facing termination.

So how do you know when it’s time to go? Based on my experience, here are my top 10 indicators that it’s time to make the change.
1: You know you aren’t performing to the best of your ability
We all go through slumps, bad days, even bad weeks when we just don’t care, don’t give it our best… but what if that week turns into months? If you just don’t have what it takes to give it your best, something needs to change. This is a common sign of burnout or of being overworked, underworked, underchallenged, or out of your depth.


If lack of motivation is the only issue, it may be possible to effect change within your current company by requesting different responsibilities, more training, or another position. But if none of these options is available, it’s time to update your resume.

2: You start gravitating toward coworkers you can be disgruntled with
Think about the people with whom you choose to socialize at work. Whose company do you seek out? Are you drawn toward the malcontents, the people who derive pleasure from complaining about their boss, the declining benefits, and the unreasonable overtime? When people ask you what you like about your job, is it rather like when Uncle Bob asked, “What’s your favorite subject at school?” and all you could think of was recess?

3: You can’t picture your future with your current employer
Do you remember those irritating questions the last time you were interviewed: “Where do you see yourself in three years? Five years? Ten?” Perhaps it’s time to ask yourself those questions again. But this time ask, “Do I see myself HERE in three years? Five years? Ten?” If the answer to any of these questions is “no,” what is your plan? Where do you want to go? When were you planning to make your move?

As much as we’d all like to simply wake up one day to find ourselves in the perfect job, the chance of it happening is probably slightly slimmer than a one-eyed, polka-dotted aardvark materializing in your trash compactor. If you know that you want to be working someplace else at some point in the future, it’s never too soon to make a plan.

4: You take inventory of your job’s pros and cons… and the cons win
If you’re having a hard time deciding whether to change jobs, try this simple exercise. Create a document with two lists — things you like about your current job, the pros, and things you dislike, the cons. Next, apply a weighting to the items. This can be as simple as a value from 1 to 10 to rate the importance of each factor. For example, if the stringent dress code is on your list of cons but it isn’t that important to you, give it a 1 or 2. But if the excellent health insurance is a pro, it would probably warrant at least a 7 or an 8.
Next, add up each list. If the cons outweigh the pros, it’s probably worth at least considering a change. If nothing else, this exercise will force you to focus on what you specifically do and do not like about your current position and give you a more concrete idea of what to look for in a new position.

5: You look for ways to improve your current situation but you can’t turn it into what you really want
Another useful exercise is to take your list of pros from the previous exercise and expand upon it. Elaborate on the items already on the list and add other items you wish you could claim about your current position. When you’re finished, review the list for items you may be able to make happen at your current company. If you want more responsibility or more flexible hours, you might be able to work that out, whereas if you work for a missile manufacturer and happen to have developed pacifist beliefs since accepting the position, your only reasonable option is to seek a position in a different company. In other words, before jumping ship under the assumption that a new position will make all your problems vanish in an instant, make the effort to effect improvements in your current position. If trying to make changes proves futile, you’ll be more confident that seeking a new position is the right thing to do.

6: Your skills are lagging and your position offers no opportunities to update them
How is your skill set? Are you able to keep your skills up to date? What would happen if your company went under today and you were forced onto the job market? Would you struggle to find a better or even an equivalent position because your skills are out of date? If this is the case, is there anything you can do to rectify the situation in your current position? Are there training opportunities you haven’t been taking advantage of?


If it’s not possible to stay employable in your current position, it’s definitely time to make a change, even if you enjoy the job and your company seems stable. You may be able to supplement your company’s deficit by paying for your own training, but without the opportunity to use your new skills in a work environment, such training will be of little value. To determine the current marketability of your present skill set, try searching for jobs equivalent to yours. Do you meet the minimum requirements?

7: You can’t get enough positive reinforcement to keep your spirits up
Do you feel valued? Feeling valued in your job is one of those almost indefinable benefits or forms of compensation that can’t be measured by any objective means. The degree to which someone needs to feel valued to be happy in a job varies greatly from person to person. Some people are perfectly content never to receive a word of praise or public acknowledgment of their achievements. For others, this type of recognition is more important than a generous salary.

The first step toward obtaining an appropriate position in this respect is to become aware of your own needs. The next step is to develop some techniques for determining whether these needs will be met when considering a new position, perhaps by asking appropriate questions during interviews or by finding current employees willing to talk. If you’re already in a job that you otherwise like, figure out what you need in order to feel valued and find ways to communicate these needs to the appropriate person.

If the only time your boss talks to you is to tell you that you need to do better or improve your attitude, try explaining that it would also be helpful to know when you are doing something right. Try being proactive and ask your peers, your users, or your superiors to let you know if there’s more you can do to help them. This could have the pleasant side effect of eliciting some positive feedback when they tell you that they’re perfectly satisfied with your current level of service. If you still can’t get the validation you need, it could be time to seek it elsewhere.

8: Your salary just isn’t enough

Are you paid what you’re worth? Although receiving inadequate financial compensation for your efforts is rarely the sole or even the most important reason that people change jobs, it’s a significant factor. For most people, being paid what they’re worth — at or above the going market rate for their job function — is an essential aspect of feeling valued. Don’t know what you are worth? Try looking at comparable positions on job hunting Web sites, review compensation surveys, or update your resume and submit it to a headhunter to solicit feedback.
Being paid inadequately can be particularly galling if you happen to find out that one of your less experienced and/or less qualified co-workers is being paid more. Early in my career, I was given the task of training a new employee, an assignment I took on quite willingly until I learned that despite her lack of experience, her salary was almost exactly double mine. Although I continued to train her, my enthusiasm definitely waned. My request for a mere 5 percent pay increase was denied, so I took the only reasonable course of action and secured a position with a different company. In this case, salary was not the only factor, but it was the one that finally persuaded me to make a change.


9: You want to live somewhere else
Have a great job but hate the location? Even if you have the perfect job, unless your career is the single most important aspect of your life, disliking the area in which you live or having a burning desire to live someplace else is an important factor in deciding to change jobs. Since accepting my first IT job, the need to relocate has been a significant force in my decision to change companies three out of four times. In fact, of those three, I relocated twice without even having a job to go to.


10: Your company or work situation has changed radically since you were hired
Your job used to be perfect, but now it has changed. Maybe your company was bought out or your boss retired or got reassigned. Or perhaps your company had a significant shift in operating philosophy or in its mission, and now you’re no longer working in the same environment into which you were originally hired. If such changes occur, you basically have three choices: Go with the flow and make the most of the situation, quit, or stay and complain. These types of changes can be so far-reaching in their impact upon your daily life that the result is not dissimilar to being forced to change jobs and companies. You may be going to the same physical location each day, but every other aspect of your job has been transformed. Even if you’re not unhappy with the changes, this is a good opportunity to reexamine where you are in your life and make sure you take full advantage of the new circumstances.

Mercedez-Benz*


Ada kisah menarik dibalik kesuksesan merek Mercedes-Benz. Mobil asal Jerman yang kini identik sebagai mobil mewah dan berkelas itu ternyata merajut suksesnya dengan cerita-cerita yang sangat manusiawi. Mulai dari penemuan mesin berkecepatan tinggi, penggunaan simbol bintang, sampai dengan nama Mercedes itu sendiri. Di balik cerita itu, tersirat pula pesan yang terdengar klise namun terbukti benar, "Tak ada kesuksesan tanpa kerja keras!". Sebagai sebuah legenda otomotif, kesuksesan Mercedes-Benz tak bisa dipisahkan dari lima tokoh yang meletakkan batu pondasi bagi kejayaan merek ini. Mereka adalah Gottlieb Daimler, Karl Benz, Mercedes Jellinek, Emil Jellinek dan Wilhem Maybach. Awalnya adalah penemuan mesin berkecepatan tinggi pada dekade 1880-an yang diikuti dengan penciptaan automobil oleh dua pengusaha cerdas, Gottlieb Daimler dan Karl Benz. Menyadari bahwa temuan automobil akan segera menjadi kunci penting bagi masa depan, dua sahabat itu kemudian membangun proyek bisnis pribadi mereka.


Pada Mannheim, mereka mendirikan firma Benz & Cie pada bulan Oktober 1883 dan dilanjutkan dengan pendirian Daimler Motoren Gesellschaft (DMG) di Cannstatt tujuh tahun kemudian. Sejak tahun 1902, seluruh produk yang dihasilkan kedua saha¬bat ini diberi nama 'Benz' dan 'Daimler' dengan lambang gearwheel sebagai simbolnya. Layaknya bisnis yang baru dirintis, perusahaan milik Benz dan Daimler ini juga mengalami masa-masa kritis. Salah satu penyebabnya ada¬lah promosi yang kurang.gencar. Hingga suatu hari, seorang pengusaha asal Aus¬tria, Emil Jellinek mengunjungi pabrik Daimler di Cann¬statt dan memesan mobil Daimler pertamanya, sebuah kendaraan berdaya enam tenaga kuda dan mesin dua silinder. Namun mobil yang selesai pada bulan Oktober 1897 itu dirasakan terlalu lambat bagi seorang Jellinek, karena hanya mampu mencapai kecepatan maksimum 24 km per jam.

Karena itulah, pengusaha kaya ini memesan kembali mobil yang dapat berlari lebih cepat. Tepatnya bulan Sep¬tember 1898, terciptalah dua unit mobil 'Phoenix' Daimler dengan mesin delapan hp front mounted. Mobil ini adalah kendaraan pertama di dunia yang menggunakan mesin empat silinder dan mencapai kecepatan maksimum 40 km per jam. Kecepatan yang luar biasa pada waktu itu!. Hubungan bisnis yang lancar akhirnya membawa hubungan produsen-konsumen berubah menjadi hubungan pertemanan. Emil Jellinek yang seorang pengusaha dan dekat dengan lembaga keuangan internasional dan aristokrasi mengusulkan kepada Benz dan Daimler agar mengganti nama produknya dengan nama seorang wanita. "Pada dasarnya mobil adalah kendaraan bagi pria, karena itu berilah nama wanita supaya mereka mencintainya," kata Jellinek.

Merasa usul itu masuk akal, Benz dan Daimler ke¬mudian sepakat mengganti nama produknya. "Tapi nama apa yang pantas?" tanya kedua sahabat itu pada Jellinek. "Mercedes!". Mercedes adalah nama seorang gadis Spanyol kelahiran 1889 yang tinggal di Baden dekat Vienna dan Nice. Mer¬cedes yang berarti 'keanggunan' tak lain merupakan putri kandung Emil Jellinek sendiri. Di atas telah disebutkan bahwa ada lima orang yang paling berjasa dalam membentuk image Mercedes sebagai mobil berkelas dunia. Empat nama pertama telah dise¬butkan, berarti hanya tinggal seorang, yaitu Wilhem Maybach. Wilhem Maybach adalah seorang kepala insinyur di Daimler Motoren Gesellschaft (DMG). Dialah yang menciptakan 'Mercedes' pertama sekaligus yang menjadikan merek ini sebagai pelopor automobil modern di dunia. Produk fenomenal Maybach memuat berbagai inovasi otomotif seperti a presses-steel frame, sebuah lampu, mesin dengan performa tinggi dan sebuah honey-comb radiator.

Inilah tonggak pertama kebangkitan merk Mercedes. Mobil yang kemudian diikutsertakan pada ajang balapan 'Nice Week' ini mulai menampakkan keperkasaannya. Kemenangan demi kemenangan yang diperoleh dari arena balap itu menarik perhatian publik dan segeralah dimulai promosi yang paling efektif, promosi dari mulut ke mulut. Tepat tanggal 23 Juni 1902, Mercedes diakui sebagai se¬buah nama perdagangan dan secara legal didaftarkan pada tanggal 26 September 1902. Emil Jellinek, orang yang berjasa dalam pemberian na¬ma mobil mewah ini pada bulan Juni 1903 meminta persetujuan dari Benz dan Daimler untuk menyebut dirinya Jellinek-Mercedes. "Ini mungkin pertama kalinya seorang ayah mengguna¬kan nama anak perempuannya," katanya.

*From My Bro Stuff-Dari berbagai Sumber