Tampilkan postingan dengan label People. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label People. Tampilkan semua postingan

Muhammad Yunus : How a Social Business can change the world

"There is fault of the system. Fault of the concept. Today there is only one concept of the business, business is to make money. There is no second concept of the business. Maximization of the profit is the mission of the business. I said that mission is inappropriate for human being!" -Muhammad Yunus"



Orang kecil itu Berjiwa Besar

Tentu banyak yang tau kehebohan Rohut Sitompul saat meminta keterangan JK di pansus beberapa waktu lalu. Banyak yg tersinggung dengan cara rohut bertanya sambil menggunakan kata "daeng" yang dianggap bernada melecehkan.

Berikut tanggapan JK yang di posting langsung oleh beliau di kompasiana http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/16/hati-hati-memanggil-orang-bugis-dengan-daeng/

terima kasih untuk pesannya saya sudah baca tulisan anda…memang banyak yang mempersoalkan itu, tapi bagi saya pribadi, saya anggap secara kultural, panggilan “daeng” sama saja dengan panggilan “mas” di Jawa sana. meskipun kadang2 di makassar kita juga tidak suka dipanggil mas karena itu panggilan tukang bakso, sama halnya daeng boleh jadi, orang yang dipanggil tersebut akan tersinggung. Saat ini, memang panggilan daeng lebih banyak ditujukan pada profesi tukang becak, sopir angkutan, atau penjual ikan.. Tapi,
situasinya berbeda dengan saat berada di Jakarta. Saat di Jakarta, saya merasakan bahwa panggilan daeng ini menjadi sapaan yang lazim di kalangan kita yang berasal dari Sulsel. Panggilan ini menjadi penanda, semacam penegasan bahwa kita berasal dari daerah yang sama, maka kita adalah saudara. Di Jakarta, seorang warga Sulsel yang memanggil sesamanya dengan panggilan daeng, dianggap sangat sopan dan menghargai sesamanya. Panggilan itu adalah pernyataan bahwa kita sesama saudara seperantauan yang saling menghormati. Jika kemudian warga etnis lain ikut-ikutan memanggil ”daeng”, maka itu dianggapnya sebagai panggilan kehormatan. saya memang sering disapa daeng oleh sesama di Jakarta. Daeng Ucu’ begitu teman2 menyapa saya. saya anggap tak ada yang salah dengan panggilan itu sebab merupakan bentuk penghormatan dan pernyataan bahwa kita sesama saudara. Jika belakangan panggilan Ruhut menimbulkan reaksi, mungkin itu dikarenakan karena intonasinya yang seakan melecehkan. Ia seolah sedang menginterogasi, dan beberapa kali mengulang kata Daeng Jusuf Kalla. Dengan intonasi seperti itu, sah-sah saja jika orang Sulsel menganggapnya pelecehan. tapi jangan berlebihan lah, memang kawan kita suka begitu… saya sendiri sampai saat ini masih merasa biasa biasa saja, dengan sudah terbiasa dengan Bung Ruhut…


Meretas langkah perjuangan


Kadang aku tak mengerti mengapa aku harus disini. melakukan hal - hal yang mereka jadikan sebagai amanah bagiku, menunaikan tanggung jawab yang terkadang menghimpit, menahan kemarahan yang serasa memecahkan dada, lalu mencoba diam seakan semua baik - baik saja dan tidak ada masalah.

Aku teringat 4 tahun lalu, ketika itu aku, mas anug, dan seorang lain sedang menunggu angkutan untuk mengikuti sebuah seminar kepemimpinan di kampus ITB. waktu itu aku hanya kebetulan saja berada dalam situasi ini -sebagai wakil dari BEM STTTelkom- karena ajakan mas Anug ketika aku sedang asyik membaca koran di sekre kami. Saat itu, aku hanya mahasiswa tingkat pertama yang sedang dalam berada dalam kondisi yang begitu bersemangat dengan hidup baruku, dengan begitu banyak pertanyaan "mengapa" dan sedang mencari idealisme yang dapat kujadikan contoh bagi sikapku. Dalam penungguan itu, sempat aku terlibat percakapan menarik dengan Mas Anug. Dari keseluruhan sesi itu, ada satu yang begitu kuingat hingga saat ini.

Setiap kita memiliki hidup yang dipenuhi berbagai orang dengan kepentingan yang berbeda - beda bahkan bertentangan satu sama lain. Ada banyak saat yang akan sering kita temui dalam hidup, ketika kita merasa ditarik - tarik dari berbagai sisi, mencoba memenuhi keinginan banyak orang, menunaikan begitu banyak harapan -orang tua, kawan seperjuangan, pacar, saudara, bos, dll- Ada banyak momen dalam hidup ini, ketika kita dilanda semua tuntutan itu, amanah ini, suka atau tidak suka, sanggub atau tidak sanggub.

Tapi kita juga punya banyak momen untuk belajar dari itu semua. Menjadi "tong" tempat dunia disekitar kita membuang keluh kesah, meneriakan pemikiran, menuangkan kekesalan, menceritakan kegembiraan, mengisahkan heroik pengakuan diri. Karena semua manusia ingin didengarkan dan mendapat pengakuan. Inilah makanan bagi mental setiap kita. Bukankah Begitu banyak anomali dalam hidup ini ? yang bahkan hukum fisika maupun matematika pun tak akan mempu menterjemahkan apalagi memberi penjelasan. Kita kadang tak menyadari, bahwa pembicara yang baik itu tak lain adalah pendengar yang simpatik atau pemenang yang sesungguhnya adalah yang mengalah ketika kemarahan sudah diujung ubun - ubun.


Allah Maha Kuasa yang membuat kegala kerumitan hidup ini dilindungi dalam kesederhanaan.

Kadang aku limbung ketika memikirkan mengapa aku masih ada di sini. Meretas satu demi satu langkah perjuangan ini yang orang lainpun tak ingin menjalaninya, terpaksa menjadi pribadi yang tidak dikenal orang, mengatakan kebenaran yang menyakitkan yang bahakan tak ingin kukatakan, berada dalam posisi untuk mengambil keputusan yang tidak ingin diambil orang lain, menjadi tumbal bagi semua kesalahan - kesalahan. "Dipuncak itu sepi rasanya", begitulah dulu yang pernah dikatakan John Maxwell. Dan saat ini, itulah yang kurasakan, suka atau tidak suka aku telah berada disini saat ini, disini, sekarang. Berdiri di puncak yang sepi ini, hanya ditemani sepoi angin dingin yang setiap saat bisa berubah menjadi badai yang mematikan.

Saat ini dan berjuta momen sebelumnya, kusadari aku telah ditinggalkan. Dari kawan - kawan yang saharusnya bersamaku menunaikan amanah ini. Tapi kata orang, dunia berputar karena kesenjangan fakta dan harapan. Dan inilah fakta yang harus dihadapi saat ini, tentang janji yang tidak ditunaikan, tentang kepercayaan yang ditinggalkan. "Tenang saja, klo udah sidang ntar kuselesaikan ini semua, gantian kita", seribu ucapan seperti itu yang coba kupahami berjuta detik yuang lalu. Tapi manusia itu memang selalu sama dengan ucapannya, yang membedakannya hanya apa yang dia lakukan dengan ucapan itu. Itulah yang membedakan pecundang dengan pemenang. Dan mereka pergi, lari dari amahan ini dan meninggalkanku.

Ada begitu banyak keresahan yang ingin ditumpahkan, kemarahan yang ingin dilampiaskan hingga membuat seluruh tubuhku bergetar karena menahannya, sumpah serapah yang ingin diteriakan, kesedihan yang ingin kuwujudkan dalam tangis. Tapi untuk apa itu semua ? bukankah kita hidup untuk menantang kesulitan? dan belajar sebanyak - banyaknya dari itu semua? Sekarang yang ingin kulakukan hanya membersihkan diriku dari najis yang melekat, katanya air wudhu ini membasuh marah, keresahan atau kesedihan. Lalu aku pun menulis.

AKu teringat Mak dan Abah. Kedua orang tua yang kusayangi disini. aku teringat tubuh renta Mak yang selalu dengan semangat menawariku gorengan yang terlalu besar dengan tepung ketika aku dengan perut keroncongan datang ke warungnya yang telah reot dan meminta makan. Aku teringat Abah yang selalu tertawa lebar menampakan gigi ompongnya saat ku berjalan menyusuri tepian pematang sawahnya yang telah menguning dan akan panen sebentar lagi. Mendengar ia mengatakan sesuatu dalam bahasa negri ini dengan bunyi yang tak pernah kumengerti selain mengucapkan "nuhun..nuhun abah.."

Waktu itu aku terlelap di bawah kerindangan kebun sederhana ini. Dan tiba - tiba terdengar seperti suara gemuruh yang semakin mendekat. Sontak aku berlari keluar dan ah, ternyata hujan..sungguh sudah begitu lama tanah ini tidak dibasuh langit. Dan hujan ini seakan hanya menyapa, karena esoknya dan kesudahannya ia tak datang lagi. Menyisakan tanya, "Ada apa ya Allah ?". Malam sesudahnya, Mak mendatangiku. Dengan irama kata yang kutau menahan sedih, ia mengatakan padaku "listrik mak mati, dek." Masih limbung entah karena aura kasur yang memabukan atau mendengar berita itu, aku mendengarkan beliau. Mak..Orang tua ku yang renta, saat ini ada dihadapanku, menahan tangis yang ingin sebenarnya ingin ditumpahkannya.

Aku tak tau apa yang mampu kulakukan. Aku hanya orang biasa dengan gelombang demi gelombang amanah di bahuku. Yang dipaksa menahan marah yang membuncah, menepis kebencian walau ditinggalkan, mencoba ikhlas menerima kesulitan ini, melupakan masa lalu yang harus ditinggalkan, menatap saat ini dan menyongsong masa depan walau dengan merangkak sekalipun. Semua fakta ini harus kutelan dan tak boleh keluar dari rongga dadaku walaupun ia semakin sempit dengan sejuta pernyataan tak terjawab. Aku merasa sendiri, hanya mampu mendengar suara bising dunia disekitarku dengan sayup.

Aku ingin pulang. entah kemana. Bukankah Allah bersama orang - orang yang bersabar ?

"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu? yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap." (Al-Insyiroh 1-8)

Blog nya Sang Presiden : Mahmud Ahmadinejad


Ternyata yang punya blog bisa dari kalangan mana saja. check this out guys..
------
Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad membuat blog sendiri. Peluncurannya disiarkan oleh stasiun televisi nasional Iran, Minggu (13/8) dan mendorong publik Iran untuk menulis langsung pesan-pesan mereka pada Presiden lewat blognya.

Isi blog Ahmadinejad masih berupa kisah tentang masa kecilnya, revolusi Iran dan perang Iran-Irak. Blog tersebut juga dilengkapi dengan ruang polling online yang untuk kali ini mengangkat tema, apakah AS dan Israel "sedang menarik picu perang dunia lagi."

Blog Presiden Ahmadinejadi disajikan dalam tiga bahas, Inggris, Perancis dan Arab dengan alamat http://www.ahmadinejad.ir/


Dalam blognya Ahmadinejad menulis, bagaimana pemimpin spiritual Iran Ayatullah Khomeini mulai mempengaruhi pemikirannya ketika Ayatullah berada dalam pengasingan selama kurun waktu 1960-an sampai 1970-an.

Ahmadinejas menulis dalam blognya,"Makin saya mengenal pemikiran dan filosofinya, semakin saya mengaguminya dan pengasingan serta ketidakhadirannya, buat saya tidak bisa ditoleransi."

Di blognya, Ahmadinejad juga menyampaikan kritik-kritik tajamnya pada AS dan pandangan-pandangannya terhadap Perang Iran-Irak di era 1980-1988, ketika Ahmadinejad masih menjadi anggota pasukan elit Revolutionary Guard.

Seperti di negara-negara lainnya, perkembangan dunia maya memungkinkan setiap orang untuk memiliki situs sendiri, tak terkecuali di Iran. Cuma, di Iran para blogger belum bisa bergerak bebas untuk menuangkan pemikirannya.

Kabarnya, pemerintah Ahmadinejad termasuk yang ketat mengawasi kemunculan blog dan para bloggernya, yang mulai marak sejak lima tahun lalu. Menurut Muhammad Ali Dadkhah, seorang praktisi hukum hak asasi manusia, diperkirakan ada 50 bloger yang ditangkap selama kurun waktu setahun ini.

Isa Saharkhiz, anggota Committe to Protect Journalist di Iran mengatakan,"Tindakan keras terhadap para blogger merupakan bagian dari meningkatnya kebijakan sensor oleh pemerintah." (ln/aljz)