Tampilkan postingan dengan label Biography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biography. Tampilkan semua postingan

Reinhold Messner : Murdering The Impossible

Just an old story in my drive, 
but I always get inspired every time I read and read it again. 
A precious story of phenomenal crazy man : a Mountaineer, a True Explorer, a Writer, and an Achievement Maker.
-------------
Ketika anda mengalami kegagalan. Ketika anda kehilangan sosok yang begitu anda cintai. Bisa jadi itu akan melunturkan semangat anda. Bahkan trauma. Seperti Peter Garret dalam film Vertical Limit. Dimana dia begitu trauma. Karena bayangan kegagalan menyelamatkan ayahnya. Karena pada akhirnya dia harus memotong tali pengaman ayahnya dalam pendakian tebing, demi keselamatan dia dan adiknya. Trauma yang luar biasa sehingga membuat Peter seolah kapok dengan dunia pendakian dan mengalihkan diri menjadi wartawan.

Dari begitu banyak orang yang trauma karena kegagalan atau kehilangan orang yang tercinta ada pula yang akhirnya bangkit dari traumanya dan menjadi orang yang sukses hingga namanya terkenal di seluruh dunia. Reinhold Messner adalah salah seorang diantaranya.


Di tahun 1970, Messner bersaudara (Reinhold dan Gunther) berniat menaklukkan Nanga Parbat, sebuah ''puncak terlarang'' dengan ketinggian 8.125 m di atas permukaan laut di rantai Karakoram di ujung barat Himalaya. Puncak ini juga dikenal sebagai the Killer Mountain (Gunung Pembunuh).

Tapi sayangnya dua bersaudara ini tak pernah mencapai puncak Nanga Parbat. Mereka berdua menyerah dan berada di batas kelelahan, kehabisan bekal makanan dan air. Hingga akhirnya di ketinggian itu, Gunther, sang adik pun terkena halusinasi dan menghilang tersapu longsoran salju yang besar. Dan sang kakak, Reinhold harus pulang ke Austria dengan kegagalan dan penuh duka.

Kejadian tersebut sungguh mengguncang Reinhold. Betapa tidak, selain harus kehilangan adiknya serta kehilangan tujuh jari kaki dan beberapa jari tangan akibat frostbite selama pendakian tersebut anggota tubuhnya, Ayahnya dan semua anggota keluarga menyalahkan dirinya atas hilangnya sang adik.

Namun itu belum seberapa, karena Dua pendaki lainnya, Max von Kienlin dan Hans Saler yang ambil bagian pada pendakian itu malah memberi kesaksian dalam buku yang diterbitkan di Jerman bahwa Reinhold telah menyuruh adiknya menuruni sisi Rupal, bagian curam yang berbahaya di gunung itu. Padahal kedua kakak beradik itu, kata mereka, hampir mati saat mendakinya. Reinhold, kata mereka juga, dengan teganya meninggalkan sang adik yang dalam keadaan sakit itu dengan memaksanya turun. Menurut Von Kienlin dan Saler, Reinhold sendiri memilih turun melewati rute berbeda yang baru di sisi barat Diamar karena ia ingin menjadi orang pertama yang turun lewat jalur ini. ''Akibatnya,'' tulis mereka, ''Messner mengorbankan adiknya untuk ambisinya sendiri.''

Betapa semakin terguncang Reinhold kala itu, dia mengalami kegagalan, kehilangan adik yang dicintai juga dihakimi oleh orang-orang disekitarnya. Akhirnya kejadian tersebut, membuat Reinhold menutup dirinya selama setahun.. Hingga pada akhirnya diapun kembali tersadar, bahwa dia bisa melakukan lebih dari hanya sekedar menyesal. Reinhold pun kembali bangkit. Dia kembali ke dunia pendakian. Dia melawan semua trauma. Dia acuhkan semua suara suara sumbang di sekitarnya. HIngga akhirnya di tahun 1973, Reinhold kembali ke Nanga Parbat. Walau dalam pendakian ini, Reinhold masih belum berhasil mencapai puncak. Namun dia telah berhasil menaklukkan dirinya sendiri atas kesalahan dan kegagalan masa lalu.

Upayanya menjadi luar biasa terus ia asah, Pada 8 Agustus 1975, Messner dan Habeler memulai pendakian. Keduanya tak bawa tali, tabung oksigen dan hanya berbekal alat panjat pribadi. Hari kedua, mereka tiba di bawah dinding es curam setinggi 1.000 meter. Kemah berikut berdiri setelah lewat dinding tersebut. Reinhold Messner dan Habeler pun melakukan pemanjatan kilat.

Usai pemanjatan gila-gilaan itu, keduanya terserang rasa lelah yang hebat. Saking capeknya, memasang tenda pun terasa sangat sulit. Apalagi acara makan tak ada dalam agenda pendakian. Hari berikutnya, mereka meninggalkan perlatan dalam tenda. Penyerangan puncak (summit attack) dilakukan dengan hanya membawa kapak es (ice axe), crampoons, kamera dan peralatan medis.

Pada hari yang sama, kedua pendaki handal ini meraih puncak. Peter Habeler tiba lebih dulu. Messner menyusul beberapa menit kemudian. Seperti lazimnya pendaki, Messner mengabadikan Habeler saat berada di puncak. Asyiknya, cuaca amat cerah dan mereka pun berpelukan. Wow!

Hingga akhirnya Sejarah itu terjadi pada Mei 1978. Messner, menebus kegagalan yang pernah dialami dengan adiknya. Messner dan Habeler mendaki puncak lewat South Col. Mereka mendaki tanpa membawa tenda dan tentu saja, tanpa tabung oksigen. Tantangan alam yang amat berat, mampu dilewati.Selain latihan yang serius, keduanya punya ikatan yang kuat sebagai tim pendaki. Tanpa berbicara, mereka terus mendaki menuju puncak. Kadang-kadang, mereka saling berpandangan, melihat badan dan pikiran masing-masing.

Sebelumnya, kawan-kawannya di Austria mencelanya. Karena itu adalah perjalanan yang sulit. Bahkan ayahnya mengatakan dia gila. Juga para ilmuwan saat itu memperkirakan bahwa pada ketinggian diatas 8000m diatas laut, tanpa oksigen tambahan manusia akan kehilangan control fikirannya. Bahkan Habeler, kawan pendakiannya sempat khawatir dengan serangan oksigen tipis di ketinggian yang dapat berakibat kerusakan otak dan kehilangan memori. Namun, dia dan Messner akhirnya mampu mencapai puncak. Habeler mengaku sangat letih secara fisik, namun hasrat memuncak yang begitu tinggi mampu mengalahkan segala. Karena takut terkena kerusakan otak, Habeler turun ke South Col hanya dalam waktu satu jam saja. Ia meluncur dengan kapak esnya.

Kisah petualangan pria kelahiran desa Villnos, Italia Selatan 17 September 1944 tak berhenti sampai di situ. Pada tahun yang sama, Messner meraih puncak Nanga Parbat (8.125 meter/26.660 feet) tanpa bekal tabung oksigen. Bagi para pelaku pendakian gunung, prestasi itu seolah tenggelam. Mereka justru penasaran dengan pendakian solo Messner dalam usaha mencapai puncak gunung yang ada di wilayah Pakistan itu. Ia mencapai puncak nomor sembilan hanya dalam waktu 12 hari.

Dua tahun kemudian Messner kembali menciptakan sensasi. Pada 18-21 Agustus 1980, Messner sukses membuat rekor di Everest: mendaki solo dan tanpa tabung oksigen. Ia mulai mendaki sendiri dari advanced base camp di sisi utara.

Pada hari ketiga – dengan diliputi keletihan, Messner mampu berdiri di titik 8.848 meter itu. Meraih puncak seorang diri, Messner pun terduduk dan menangis. Hanya itu yang dapat dilakukannya. Saat tiba di kemah, Messner berucap terbata-bata, ”Saya tak dapat mengulanginya lagi. Saya telah mencapai batas kemampuan saya. Dan saya merasa bahagia.”

Reinhold tidak saja dikenal sekedar menjadi penakluk Mount Everest, Himalaya, semata. Namun juga, namanya diabadikan di dalam sejarah dunia sebagai pendaki pertama di dunia yang menaklukkan mount Everest tanpa Oksigen tambahan atau lebih dikenal dengan gaya Alpina. Dengan kesuksesannya tersebut dia juga mencatatkan namanya di Guinness Book of World Record sebagai Penakluk 14 Puncak gunung diatas 8000m, sukses melintasi benua Antartika dengan jalan kaki selama 92 hari via the South Pole sejauh 2.800 km. Dan tahun berikut, melintasi gurun Takla Maran, lalu ekspedisi ke Greenland sejauh 2.200 km.

Dalam pendakian gunung, kamu tidak bisa menjadi orang lain, tetapi kamu akan menjadi dirimu sendiritutur Reinhold ketika ditanya tentang kesuksesannya sebagai pendaki gunung ternama. “Saya adalah orang pertama di dunia yang menaklukkan 14 puncak tertinggi di dunia, tanpa oksigen tambahan. Saya tidak pernah mempertanyakan berapa tinggi gunung yang akan saya daki, akan tetapi bagaimana saya menaklukkan gunung tersebut.”

Reinhold Messner, adalah salah satu contoh sosok manusia di dunia yang mampu me-recover dirinya dari kegagalan yang pernah ia alami. Hingga akhirnya ia pun menjadi orang yang sukses dalam catatan sejarah pendakian gunung dunia. Dia tidak pernah menghakimi orang-orang yang pernah mencelanya di masa lalu. Bahkan ketika kebenaran itu terkuak 35 tahun dimana di tahun 2005 jasad Gunther adiknya ditemukan dalam keadaan seperti pengakuan Reinhold, tersapu dan tewas dibawah longsoran salju. Dia tidak banyak bicara untuk meyakinkan bahwa dia tidak berdosa, cukup waktulah yang menguak kebenaran sesungguhnya.

Kegagalan dalam kehidupan adalah hal yang biasa. Namun bagaimana kita menjadi sosok yang luar biasa dengan bangkit dan kembali sukses daripadanya.

Main source taken from: Bangkit Menuju Kesuksesan. A Setiawan
Pictures taken from:  sini, sini, dan sini

Must be proud to be Indonesian!


Proffesor termuda di Amerika adalah Orang Indonesia

NAMA lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD. Setahun lalu, ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut. Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai professor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri Paman Sam, itu. Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.

Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional. Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC.


Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia. Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks (buku wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.

Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai sekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Kemana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya. "Saya sangat cinta tanah kelahiran saya. Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia," katanya, serius.

Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang dicap sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari basa-basi. "Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras," kata Nelson menjawab koran ini.

Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU). Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. "Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya l ebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics," jelasnya.

Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Disana, 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-kobar dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson sangat bersahaja dan bahkan suka merendah.

Busana kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan pantalon. Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya sering tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara. Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya di kampus.

Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak sedikit insane kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.

"Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah," ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya. September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology. "Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh University ini," jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus.

Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di negeri itu dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga ada imigrannya, yakni Mente ri Tenaga Kerja Elaine L. Chao.Imigran asal Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi menteri selama sejarah AS.

Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1 hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang electrical engineering. Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua orang tuanya dan kakeknya. "Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali," ujarnya.

Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. "Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu," ungkapnya. 

Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. "Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu," jelasnya. Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit ya ng tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah? Nama Nelson Tansu memang cukup unik.

Sekilas, sama sekali nama itu tidak mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri tertentu. Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca, mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut. Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki. Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya Kemal Ataturk.

Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok . Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia "kembali" mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang. Lebih-lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya.

"Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia. Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia," jelas Nelson. Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang "Tansu", sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. "Saya suka dengan nama Tansu, kok," kata Nelson dengan nada bangga.

Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, dan selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1. Selebihnya ? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. "Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas," katanya.

Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak sulit memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di AS. Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor (profesor muda) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada usia 25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun? Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang status guru besar.

Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset Nelson yang dipatenkan di AS. Kemudian, dua buku teksnya untuk mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan. Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah. Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan terperanjat. Cukup fenomenal. "Sejak SD kelas 3 atau kelas 4 di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil," ujarnya dengan mimik serius.

Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabi Nelson cilik. "Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu," jelas Nelson penuh kagum.

Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan dan papan atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi profesor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor yang resume (CV)-nya juga hebat-hebat. "Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu," ujarnya. Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? "Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he...he...he...," katanya, menyelipkan senyum.

Riwayat hidup dan reputasinya memang wow. Nelson sempat menjadi incaran dan malah "rebutan" kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandang sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University. Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain. "Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices. Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset.”

Miya Irawati
Harustie 7 F 97/3
00980 Helsinki
Finland

--
Biography
Nama: Prof Nelson Tansu, Ph.D

Lahir:Medan, 20 Oktober 1977

Tinggi / berat:173 / 63 kg

Orang Tua:Iskandar Tansu (Ayah) / Lily Auw (Ibu)
Saudara:Tony Tansu (abang) dan Inge Tansu (adik). Keduanya lulusan Ohio State University (OSU). 

Pekerjaan:

Assistant Professor, Department of Electrical and Computer Engineering
Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University
Tema Utama

Penelitian:

Optoelectronic Devices for Optical and Free-Space Communications, and Quantum Nano-Photonic Material and Devices for Quantum Information Processing”

Pendidikan:

- Ph.D. in Electrical Engineering, University of Wisconsin-Madison, 1998 – Mei 2003

- B.S. in Applied Mathematics, Electrical Engineering, and Physics, University of Wisconsin-Madison, 1995 – 1998

- SMA Sutomo 1 (Medan, North Sumatra, Indonesia), 1992 – 1995 

Penghargaan:

- Finalis Tim Olimpiade Fisika 2005

- Lulusan terbaik SMA Sutomo 1, Medan

- Tau Beta Pi Engineering Honors (1998), University of Wisconsin-Madison

- WARF Graduate University Fellowships (Graduate School, University of Wisconsin-Madison)

- VILAS Graduate University Fellowships (Graduate School, University of Wisconsin-Madison)

- Graduate Dissertator Travel Funding Award (Graduate School, University of Wisconsin-Madison)

- The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Award-1st Prize (University of Wisconsin-Madison)

- Sigma Xi Scientific Research Society Honors (2004), Lehigh University
Who’s Who in Science and Engineering (since 2005), Inducted in 2004.

Organisasi Profesi:

- Institute of Electrical and Electronics Engineers, Laser and Electro-Optics Society (IEEE-LEOS)

- The International Society for Optical Engineering (SPIE)

- Optical Society of America (OSA)

- Tau Beta Pi Engineering Honor Society 

Aktivitas Profesional:

- Technical Program Committee Member – The 7th Joint Conference on Information Sciences (JCIS) 2003
-  The 2nd Symposium on Photonics, Networking and Computing (PNC) 2003, Cary, NC, USA, September 2003.

Jurnal:

-IEEE Photonic Technology Letters (published by IEEE Lasers and Electro-Optics Society)

-IEEE Journal of Quantum Electronics (published by IEEE Lasers and Electro-Optics Society)

-IEEE Journal of Selected Topics in Quantum Electronics (published by IEEE Lasers and Electro-Optics Society)

-IEEE Electronics Letters (published by IEE, UK)
- IOP Semiconductor Science and Technology (published by Institute of Physics, Bristol, UK) 



Berbahagia

"Kebahagiaan adalah kualitas perasaan Anda, 
yang seharusnya berada dalam kekuasaan penuh Anda untuk membangunnya.  
Jika Anda ikhlas menguatkan diri, 
Anda akan mengubah apa pun menjadi pemungkin bagi pemenuhan hak Anda 
untuk menjadi pribadi yang berbahagia. 
Maka putuskanlah.. Berbahagia!" Mario Teguh

Malam tadi aku bermimpi lagi. Bedanya, mimpi itu kuingat jelas hingga penghujung hari. Mungkin karena mimpi ini, adalah tentang mimpiku. Aku bergegas ke kantor dan memulai pagi dengan ingatan yang masih kuat atas itu. Tapi aku tidak sedang membicarakan itu saat ini. Hanya saja, tiba – tiba aku diingatkan apa yang harusnya tetap kusyukuri hingga detik ini. Dan tiba – tiba diantara demikiannya perasaan terbuang, jenuh dan tidak berdaya dalam diriku, aku diingatkan bahwa menjadi bahagia atau tidak itu adalah pilihan, perbedaan yang begitu jelas, tapi sering kali kita membuat itu semua berada di alam bawah sadar, hanya sekedar berlari dari fakta bahwa keputusan yang diambil adalah : tidak.

Sepulang bekerja dan berbenah, aku membuka – buka lagi lemari buku, diantaranya ada  majalah kusam yang hampir saja kuputuskan untuk dibuang. Tapi aku lalu membacanya, dan diantara hanyutnya aku membaca baris demi baris itu, aku teringat saat beberapa tahun lalu, ketika aku membuat keputusan untuk memilih salah satu jurusan paling diminati di perguruan tinggi terkemuka di negri ini. Saat itu, aku begitu gelisah hingga aku tak bisa tidur di hari ketika batas pengembalian formulir telah tiba. Tapi lalu akhirnya aku putusan untuk memilih, walaupun itu adalah pilihan yang paling kutakuti, dan walaupun pada akhirnya aku gagal. Tapi aku tidak menyesal, hingga saat ini. Aku yakin, kegagalan terbesar bukanlah kegagalan, tapi ketakutan untuk gagal itu sendiri.
Aku kembali pada tulisan itu, sejenak aku diingatkan kembali tentang apa yang harusnya tetap kusyukuri, juga apa yang seharusnya tetap kuperjuangkan dalam hidupku. Siapapun yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik, harus menyadari bahwa kesulitan demi kesulitan hanyalah salah satu fase perjalanan dan kesempatan untuk menempa diri, agar siap menerima sesuatu yang lebih besar.
Tulisan itu, adalah wawancara Dieter Lamle’ (Kepala Bagian Pers Kedubes Repubik Federasi Jerman di Jakarta) pada BJ Habibie, untuk SCALA edisi 1998, diantara masa singkat beliau ketika menjadi presiden republik ini. Berikut salah satu kutipannya..
DL : Apakah studi Bapak di jerman memberi keuntungan dalam profesi Bapak ? apakah ceritanya akan lain, seandainya Bapak studi di Amerika Serikat atau di Australia ?
Habibie :  
Saya tidak dapat membuat perbandingan dengan Amerika Serikat dan Australia, oleh karena saya tidak pernah tinggal di sana. Tapi satu hal saya tahu pasti : semangat dan pendidikan jerman telah memberi banyak hal pada saya, sehingga saya dapat seperti saya sekarang ini.
Pengertian hidup saya sebagai seorang cendekiawan, sikap saya terhadap keadilan dan demokrasi, nilai - nilai etis saya sangat dipengaruhi oleh semangat jerman. Saya seorang yang taat beragama, saya seorang muslim. Ada 25 Nabi, Nabi ang terakhir dari ke-25 Nabi itu adalah Muhammad, yang ke-24 adalah Jesus Kristus. Saya harus menghormati semua nabi dan menurut apa yang mereka katakan. Dan kalau saya membuat itu menjadi dasar piikiran, maka saya akan mempunyai penyebut yang sama dengan anda, artinya nilai - nilai saya untuk etika moral dan nilai-nilai lainnya yang penting untuk hidup. Oleh karena kita mempunya 24 penyebut yang sama yang tentu mirip, maka saya tidak pernah mempunyai masalah dengan orang - orang Eropa, dengan orang - orang Kristen.
Saya ingin bercerita kepada Anda : saya pergi ke Jerman ketika saya berumur 18. Saya dididik taat beragama. Saya sering merasa rindu pada orang tua dan keluarga, saya tidak pernah memperoleh beaiswa kecuali dari Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD), tapi baru pada tahun - tahun terakhir penulisan disertasi doktor, sehingga saya harus membiayai sendiri. Orang tua saya yang membiayai, saya bahkan tidak dapat menerima beasiswa dari pemerintah Indonesia, yang waktu itu juga sudah ada.
Ada saat - saat sulit pada masa itu bagi saya dan kadang - kadang uang saya waktu itu tidak cukup menelepon ibu atau saudara - saudara saya. Bahkan kadang - kadang karena uang belanja saya tidak datang pada waktunya, saya harus sarapan pagi hanya dengan roti dan susu saja. Mensa (kantin mahasiswa) bagi saya waktu itu adalah suatu kemewahan. Saya mempunyai tempat kost yang sering disebut "Studentenbude" di jalan Frankenberger Str. 12, di Keluarga Neuwald. Di sana tidak ada pemanas ruangan, tidak ada kamar mandi, hanya ada wastafel. Sekarang keadaannya memang sudah jauh lebih baik. Tapi dulu pada tahun 50-an, Jerman masih belum begitu maju seperti sekarang. Oleh karena tidak adanya kamar mandi, maka saya hanya dua kali seminggu pergi mandi : ke kolam renang umum. Dan karena di kamar tidak ada pemanas ruangan, ada tahu tidak dimana saya belajar ? di perpustakaan, karena disana cukup panas.
Akan tetapi saya tidak pernah merasa sedih, saya tidak pernah merasa kurang senang, saya tidak pernah merasa iri; saya bersyukur kepada Allah SWT, bahwa saya masih boleh hidup dan dapat kuliah. kondisi kehidupan yang sulit itu telah menempa saya, seorang yang bersyukur kepada Allah SWT.
Dan ada tahu tidak apa yang saya alami ? Kadang - kadang saya rindu keluarga dan kampung halaman, padahal saya dalam kesulitan karena tidak punya uang lagi, sepatu sudah berlubang - lubang, sama sekali sudah tidak punya uang untuk memberli karcis kerta api atau trem. Dalam keadaan seperti itu, saya harus berjalan kaki pulang ke pondokan, saya hanya memegang sebuah apel di tangan untuk makan malam, saya sangat kurus waktu itu.
Anda tahu tidak, pada saat-saat seperti itu saya sangat mendambakan mendekatkan diri pada Allah SWt. Tapi disana tidak ada mesjid, sehingga sulit bagi saya. Tapi anda tahu apa yang saya lakukan ? saya lalu pergi ke sebuah gereja, saya duduk paling akhir dan saya berkata pada diri sendiri, hanya ada satu Allah, "Bolehkah saya berdoa kepadamu?". Saya mencari jalan. Saya adalah seorang pemuda yang bahagia.
SCALA, 1998.

Mercedez-Benz*


Ada kisah menarik dibalik kesuksesan merek Mercedes-Benz. Mobil asal Jerman yang kini identik sebagai mobil mewah dan berkelas itu ternyata merajut suksesnya dengan cerita-cerita yang sangat manusiawi. Mulai dari penemuan mesin berkecepatan tinggi, penggunaan simbol bintang, sampai dengan nama Mercedes itu sendiri. Di balik cerita itu, tersirat pula pesan yang terdengar klise namun terbukti benar, "Tak ada kesuksesan tanpa kerja keras!". Sebagai sebuah legenda otomotif, kesuksesan Mercedes-Benz tak bisa dipisahkan dari lima tokoh yang meletakkan batu pondasi bagi kejayaan merek ini. Mereka adalah Gottlieb Daimler, Karl Benz, Mercedes Jellinek, Emil Jellinek dan Wilhem Maybach. Awalnya adalah penemuan mesin berkecepatan tinggi pada dekade 1880-an yang diikuti dengan penciptaan automobil oleh dua pengusaha cerdas, Gottlieb Daimler dan Karl Benz. Menyadari bahwa temuan automobil akan segera menjadi kunci penting bagi masa depan, dua sahabat itu kemudian membangun proyek bisnis pribadi mereka.


Pada Mannheim, mereka mendirikan firma Benz & Cie pada bulan Oktober 1883 dan dilanjutkan dengan pendirian Daimler Motoren Gesellschaft (DMG) di Cannstatt tujuh tahun kemudian. Sejak tahun 1902, seluruh produk yang dihasilkan kedua saha¬bat ini diberi nama 'Benz' dan 'Daimler' dengan lambang gearwheel sebagai simbolnya. Layaknya bisnis yang baru dirintis, perusahaan milik Benz dan Daimler ini juga mengalami masa-masa kritis. Salah satu penyebabnya ada¬lah promosi yang kurang.gencar. Hingga suatu hari, seorang pengusaha asal Aus¬tria, Emil Jellinek mengunjungi pabrik Daimler di Cann¬statt dan memesan mobil Daimler pertamanya, sebuah kendaraan berdaya enam tenaga kuda dan mesin dua silinder. Namun mobil yang selesai pada bulan Oktober 1897 itu dirasakan terlalu lambat bagi seorang Jellinek, karena hanya mampu mencapai kecepatan maksimum 24 km per jam.

Karena itulah, pengusaha kaya ini memesan kembali mobil yang dapat berlari lebih cepat. Tepatnya bulan Sep¬tember 1898, terciptalah dua unit mobil 'Phoenix' Daimler dengan mesin delapan hp front mounted. Mobil ini adalah kendaraan pertama di dunia yang menggunakan mesin empat silinder dan mencapai kecepatan maksimum 40 km per jam. Kecepatan yang luar biasa pada waktu itu!. Hubungan bisnis yang lancar akhirnya membawa hubungan produsen-konsumen berubah menjadi hubungan pertemanan. Emil Jellinek yang seorang pengusaha dan dekat dengan lembaga keuangan internasional dan aristokrasi mengusulkan kepada Benz dan Daimler agar mengganti nama produknya dengan nama seorang wanita. "Pada dasarnya mobil adalah kendaraan bagi pria, karena itu berilah nama wanita supaya mereka mencintainya," kata Jellinek.

Merasa usul itu masuk akal, Benz dan Daimler ke¬mudian sepakat mengganti nama produknya. "Tapi nama apa yang pantas?" tanya kedua sahabat itu pada Jellinek. "Mercedes!". Mercedes adalah nama seorang gadis Spanyol kelahiran 1889 yang tinggal di Baden dekat Vienna dan Nice. Mer¬cedes yang berarti 'keanggunan' tak lain merupakan putri kandung Emil Jellinek sendiri. Di atas telah disebutkan bahwa ada lima orang yang paling berjasa dalam membentuk image Mercedes sebagai mobil berkelas dunia. Empat nama pertama telah dise¬butkan, berarti hanya tinggal seorang, yaitu Wilhem Maybach. Wilhem Maybach adalah seorang kepala insinyur di Daimler Motoren Gesellschaft (DMG). Dialah yang menciptakan 'Mercedes' pertama sekaligus yang menjadikan merek ini sebagai pelopor automobil modern di dunia. Produk fenomenal Maybach memuat berbagai inovasi otomotif seperti a presses-steel frame, sebuah lampu, mesin dengan performa tinggi dan sebuah honey-comb radiator.

Inilah tonggak pertama kebangkitan merk Mercedes. Mobil yang kemudian diikutsertakan pada ajang balapan 'Nice Week' ini mulai menampakkan keperkasaannya. Kemenangan demi kemenangan yang diperoleh dari arena balap itu menarik perhatian publik dan segeralah dimulai promosi yang paling efektif, promosi dari mulut ke mulut. Tepat tanggal 23 Juni 1902, Mercedes diakui sebagai se¬buah nama perdagangan dan secara legal didaftarkan pada tanggal 26 September 1902. Emil Jellinek, orang yang berjasa dalam pemberian na¬ma mobil mewah ini pada bulan Juni 1903 meminta persetujuan dari Benz dan Daimler untuk menyebut dirinya Jellinek-Mercedes. "Ini mungkin pertama kalinya seorang ayah mengguna¬kan nama anak perempuannya," katanya.

*From My Bro Stuff-Dari berbagai Sumber