Gibran dan lantunan nada ku


Jiwa-Jiwa Pemberontak
Bagi sang jiwa yang memeluk jiwaku. Bagi hati yang mencurahkan rahasia-rahasianya pada hatiku. Dan bagi tangan yang menyalakan api emosiku, aku persembahkan lembaran ini.
.............................
Kemarilah, kekasihku. Marilah kita berjalan diantara puing-puing, karena salju telah mencair. Hidup bergulir dari kediamannya dan berputar-putar diantara lembah dan bukit.

Pergilah bersamaku dan kita akan temukan jejak-jejak kaki musim semi di padang yang luas. Marilah, kita mendaki sampai puncak bukit itu dan melihat tetumbuhan dalam hamparan hijau di sekeliling kita.

Sekarang adalah saat untuk menghirup dalam-dalam bau angin segar musim semi. Marilah kita duduk di atas batu tempat bunga lembayung bersembunyi, saling bertukar ciuman cinta....
.............................


Kemarilah, mari kita pergi ke padang karena saat panen telah tiba. Hasilnya telah terlihat dan panasnya cinta matahari pada alam telah mematangkannya.

Kemarilah, sebelum burung-burung mendahului kita, dan meraup buah-buahan hasil kerja keras kita; atau sebelum sekumpulan semut mengambil tanah kita.

Kemarilah, kawanku, mari kita terlentang di atas rerumputan dengan langit sebagai selimut kita. Mari kita sandarkan kepala di atas jerami segar dan beristirahat dari kerja seharian, mendengarkan suara malam yang berbisik dari aliran sungai dari lembah di bawah.
..............................

Mari kita kembali ke rumah, karena daun-daun pohon kini menguning dan dihempas angin. Angin akan membuat mereka kain kafan karena bunga-bunga layu dalam ketuaan lantaran musim panas yang mengguncangkannya. Marilah kita pulang, karena sungai-sungai telah berhenti mengalir. Musim semi telah mengeringkan airmata gembira milik mereka.

Kemarilah, kekasihku, karena alam digoda oleh kelesuan dan mengatakan selamat malamnya pada kesadaran dalam bentuk nyanyian kesedihan Nihavand.....

Mendekatlah, teman hidupku. Mendekatlah padaku dan jangan biarkan nafas-nafas dingin memisahkan kita. Duduklah di sampingku di depan perapian, karena api adalah buah termanis di musim dingin. Ceritakan padaku hal-hal yang telah berlalu, .

Karena telingaku letih dengan desau angin dan kerasnya salju. Palanglah pintu-pintu dan jendela-jendela, karena tatapan marah cuaca membuat sedih jiwaku. Sementara pemandangan kota duduk seperti seorang ibu yang hilang di bawah lapisan-lapisan es, menekan hatiku.

Isilah lampu dengan minyak, oh teman hidupku. Letakkan di dekatku sehingga bisa kulihat apa yang telah ditorehkan malam di wajahmu. Bawalah anggur untuk kita minum, dan kita akan ingat saat anggur itu kita peras...



Perjamuan Jiwa
Bangunlah, Cintaku. Bangun! Kerana jiwaku mengalu-alumu dari dasar laut, dan menawarkan padamu sayap-
sayap di atas gelombang yang mengamuk. Bangunlah, kerana sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki.

Rasa kantuk telah memeluk roh setiap laki-laki, sementara aku terbangun sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku. Cinta membawaku dekat denganmu, namun kebimbangan melemparkan diriku menjauh darimu.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan tempat tidurku, Cintaku, kerana takut pada hantu lupa yang berada di balik selimut. Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan halaman buku yang kosong di depan mataku!

Bangun, bangunlah, Cintaku dan dengar diriku!
Aku mendengarkanmu, Cintaku! Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu. Aku telah jauh dari ranjangku, beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku. Di sinilah aku berdiri, dibawah bunga-bunga pohon badam, memenuhi panggilan jiwamu.

Bicaralah padaku, Cintaku, dan biarkan nafasmu menghirup angin gunung yang datang padaku dari lembah-lembah Lebanon. Bicaralah. Tak ada yang akan mendengar selain diriku. Malam telah melarutkan semua manusia ditempat tidurnya. Syurga telah menyulam cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh daratan Lebanon, Cintaku. Syurga telah meriasnya dengan bayangan malam, jubah tebal membentang dihembus asap dari cerobong kain, dihembus nafas kemari, dan mengelarnya di telapak kota, Cintaku.

Para penduduk telah pulas menganyam mimpi di ubun-ubunnya di tengah pohon-pohon kenari. Jiwa mereka mempercepatkan langkah mengejar negeri mimpi, Cintaku. Lelaki-lelaki longlai menggendong emas, dan tebing curam yang akan dilalui melemaskan lutut mereka. Mata mereka mengantuk kerana dililit kesulitan dan ketakutan. Mereka melemparkan tubuh ke tempat tidur sebagai tempat berlindung dari hantu-hantu yang menakutkan dan mengerikan, Cintaku. Hantu-hantu dari masa lalu berkeliaran di lembah-lembah. Jiwa para raja melintasi bukit-bukit. Fikiranku yang berhias kenangan menyingkap kekuatan bangsa Chaldea, kemegahan Arab.

Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri yang tegap berjalan, muncung-muncung nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng, dan rasa sakit berdengung kematian, muntah-muntah sepanjang jalan. Kenangan menyingkap tabir kelupaan dari mataku dan nampaklah Sodom yang menjijikkan, serta dosa-dosa Gomorah.

Ranting-ranting berayun-ayun, Cintaku, dan desirnya bertemu dengan alunan anak sungai di lembah. Syair-syair Sulaiman, nada kecapi Daud dan lagu Ishak Al-Mausaili terngiang-ngiang di telinga kami. Jiwa anak-anak yang lapar di penginapan menggelupur, ibunya mengeluh di atas kamar kesedihan, dan kekecewaan telah jatuh dari langit. Mimpi-mimpi kebimbangan melanda hati yang lemah.

Aku mendengar rintihan pahitnya. Semerbak bunga melambai seiring nafas pohon-pohon cedar. Terbawa angin sepoi-sepoi menuju perbukitan, harum itu mengisi jiwa dengan kasih sayang dan meniupkan kerinduan untuk terbang.Tetapi racun dari rawa-rawa jug berkelana mengepul bersama penyakit. Seperti panah rahasia yang tajam, racun itu telah menembusi perasaan dan meracuni udara.

Tanpa kusedari matahari telah mengilaukan cahaya pagi, Cintaku, dan jari-jari timur yang lentik menimang mata-mata orang yang terlelap. Cahaya itu memaksa mereka untuk membuka daun jendela dan menyelak hati dan kemenangan. Desa-desa, yang sedang tertidur dalam damai dan tenang di pundak-pundak lembah, bangun, loceng-loceng berdenting memenuhi angkasa sebagai panggilan untuk mula berdoa.

Dan dari gua-gua, gema-gema juga berdengung, seolah-olah seluruh alam sedang berdoa bersama-sama dengan khusyuknya. Anak-anak sapi telah keluar dari kandangnya, biri-biri dan kambing meninggalkan bangsalnya untuk menuai rumput yang berembun dan berkilatan cahaya. Penggembalanya mengikuti dari belakang sambil mengamatinya di balik lelalang. Di belakangnya lagi gadis-gadis bernyanyi seperti burung menyambut pagi.

Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas kota. Tirai telah diselak dari jendela dan pintu pun terbuka. Mata yang penat dan wajah lesu para penjahit telah siap di tempat kerjanya. Mereka merasakan kematian telah melanggar batas kehidupan mereka, dan riak muka yang layu mempamerkan ketakutan dan kekecewaan. Di jalanan padat dengan jiwa-jiwa yang tamak dan tergesa-gesa, dan di mana-mana terdengar desingan besi, pusingan roda dan siulan angin. Kota telah menjadi arena pertempuran di mana yang kuat menindas yang lemah dan si kaya mengeksploitasi dan menguasai si miskin.

Betapa indah hidup ini, Cintaku, seperti hati penyair yang penuh dengan cahaya dan kelembutan hati.
Dan betapa kerasnya hidup ini, Cintaku, seperti dada penjahat, yang berdebar-debar kerana selalu merasa bimbang dan takut.

Semalam
Semalam aku sendirian di dunia ini, kekasih.
Dan kesendirianku sebengis kematian.
Semalam diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara.
Didalam fikiran malam.
Hari ini, aku menjelma menjadi nyanyian menyenangkan diatas lidah hari.
Dan ia berlangsung dalam semenit dari sang waktu
yang melahirkan sekilas pandangan, sepatah kata, sebuah desakan
dan..sekecup ciuman

-Khalil Gibran-

Gemuruh di Tanah Sejuta Kenangan


Aku teringat beberapa bulan lalu. Saat itu Sabtu pagi, ketika ku langkahkan kakiku memasuki ruang ini, markasnya ASTACALA. Saat itu long weekend, kebetulan para jendral (senior-red) ASTACALA banyak yang meluangkan waktu liburnya untuk sekedar bercengkrama dengan kami adik - adiknya. Pagi itu, mbak Doni kulihat sedang khawatir menatap perkembangan berita di internet. Pagi itu, kami dapatkan kabar bumi jogja tempat kami biasa bermain dihantam gempa berkekuatan tinggi.

Saat itu belum banyak hal yang dapat dilakukan, hanya menanti dan menunggu perkembangan terbaru yang bisa kami simak dari radio, tv atau internet. Barulah sorenya penantian itu berubah, karena jumlah korban yang cukup banyak yang tidak mungkin bagiku untuk menanti lagi seperti beberapa waktu lalu saat tanah rencong dihantam tsunami.

Keputusan itu berubah menjadi sesal bagiku saat ini karena ku lewatkan begitu saja kesempatan berharga untuk belajar dari alam dan manusia di aceh. Saat semua kawan ku bergerak menuju tanah bencana itu, aku hanya terdiam di sini hanya menanti dan menunggu. Akh, tidak untuk saat ini atau nanti hal itu akan kulakukan lagi. Bukan sejuta alasan yang harusnya terungkap yang erujung pada pembenaran untuk mengobati penyesalan, tapi harusnya tindakan nyata untuk bertindak.


"Ke Jogja, dek?". Begitulah pertanyaan sederhana mas gepeng, tentor yang sangat kukagumi di ASTACALA tentang sikapku untuk musibah ini. Bukan mengapa, tapi karena jogja begitu dekatnya dari parahyangan ini, karena begitu seringnya kami menikmati dan menumpang di atas tanahnya untuk menghirup sebanyak mungkin pengetahuan yang dapat disuguhkan alam untuk diambil sarinya. Juga karena jogja telah lama menjadi penyejuk hatiku saat resah setelah kota kelahiran Mamaku : Bukittinggi. Untuk alasan yang terakhir ini tak taulah aku penyebabnya, karena sejak pertamua kali aku tiba dikota ini, sudah kurasakan dengan kuatnya dejavu yang sekejab merangkul jiwaku. Seperti mengenalnya diwaktu yang lalu. Beberapa saat setelahnya, barulah kusadari bahwa kota ini bagiku seperti Bukittingi,ada kursi taman yang bisa untuk duduki sambil membaca buku dan menghirup teh hangat dengan latar gunung. Bedanya di taman kota ini tak burung merpati seperti di Bukkittingi, tapi mereka punya gunung yang sama : Gunung Merapi. Hanya arahnya saja yang berbeda. Jika di Jogja Merapi ada di utara, maka di Bukkitinggi Merapi ada di timur.

Hari telah beranjak sore di sini saat Mas Gepeng, Gapung dan Mbak Doni berpamitan. Mas Gepeng dan Gapung langsung menuju Jakarta, sedangkan Mbak Doni langsung ke rumah keluarganya di Bantul. Saat itu, markas ASTACALA belum memutuskan aksi yang dapat dilakukan sehubungan dengan bencana ini, namun setiap orang sibuk mengumpulkan informasi yang sekiranya dapat kami gunakan nanti untuk membantu pengiriman personil atau bantuan ke jogja. Sibuk dan berantakan, itulah kesana yang dapat kutangkap saat itu. Jabek bahkan sudah mengumpulkan kardus untuk menjadi kencleng sumbangan dan sekejab kemudian kawan - kawan sudah berputar kampus untuk membagikannya.

Sedikit lebih malam, tiba sms dari seorang senior ASTACALA yang bekerja di Pro-XL. "Ada seat 3 orang lagi di mobil Pro-XL untuk ke Jogja. Yang bisa berangkat siap - siap, aku tiba tengah malam di bandung". Begitulah kira - kira isi SMS itu yang membuatku dan beberapa kawan lain segera menyiapkan sedikit bekal agar kami bisa menjadi rombongan advance ASTACALA yang berangkat duluan untuk meninjau situasi dan memberi informasi sekretariat tentang segala kebutuhan di jogja nanti.

Malam itu kuisi dengan menanti sambil menonton konser UKM Band di depan Gedung SC. Sedikit kesal -yang kurasakan karena ditengah bencana ini kawan - kawan itu masih sempat jejingkrakan menikmati lantunan nada- sekejab hilang sewaktu panitia memimpin renungan sejenak diikuti doa bagi saudara - saudara di jogja. Malam itu aku duduk terdiam bersama kamera SLR Pentax dan tripod ku, mencoba mengambil gambar yang mungkin menarik. Tapi hatiku kosong sekosong pikiran yang melayang - layang. Entah mengapa, saat itu aku rindu Jogja dan Bukittinggi, aku ingin pulang atau segera ke Jogja. Keinginan yang sungguh berbeda ini membuncah dari dadaku. Dan diantara kesendirian dalam keramaian itu, kurasakan sedikit kesedihan karena mengingatmu. Kembali seperti yang sudah - sudah. Tapi malam itu, kesendirian ini kuiisi dengan memotret. Dini hari, barulah kudapat kabar Otong dan rombongan Pro-XL yang kami tunggu dari magrib tadi sudah berangkat duluan dengan pesawat dari Sukarno Hatta, sehingga kesempatan untuk menumpang beliau lenyap sudah.

(Unfinished Story..will continued later)

Blog nya Sang Presiden : Mahmud Ahmadinejad


Ternyata yang punya blog bisa dari kalangan mana saja. check this out guys..
------
Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad membuat blog sendiri. Peluncurannya disiarkan oleh stasiun televisi nasional Iran, Minggu (13/8) dan mendorong publik Iran untuk menulis langsung pesan-pesan mereka pada Presiden lewat blognya.

Isi blog Ahmadinejad masih berupa kisah tentang masa kecilnya, revolusi Iran dan perang Iran-Irak. Blog tersebut juga dilengkapi dengan ruang polling online yang untuk kali ini mengangkat tema, apakah AS dan Israel "sedang menarik picu perang dunia lagi."

Blog Presiden Ahmadinejadi disajikan dalam tiga bahas, Inggris, Perancis dan Arab dengan alamat http://www.ahmadinejad.ir/


Dalam blognya Ahmadinejad menulis, bagaimana pemimpin spiritual Iran Ayatullah Khomeini mulai mempengaruhi pemikirannya ketika Ayatullah berada dalam pengasingan selama kurun waktu 1960-an sampai 1970-an.

Ahmadinejas menulis dalam blognya,"Makin saya mengenal pemikiran dan filosofinya, semakin saya mengaguminya dan pengasingan serta ketidakhadirannya, buat saya tidak bisa ditoleransi."

Di blognya, Ahmadinejad juga menyampaikan kritik-kritik tajamnya pada AS dan pandangan-pandangannya terhadap Perang Iran-Irak di era 1980-1988, ketika Ahmadinejad masih menjadi anggota pasukan elit Revolutionary Guard.

Seperti di negara-negara lainnya, perkembangan dunia maya memungkinkan setiap orang untuk memiliki situs sendiri, tak terkecuali di Iran. Cuma, di Iran para blogger belum bisa bergerak bebas untuk menuangkan pemikirannya.

Kabarnya, pemerintah Ahmadinejad termasuk yang ketat mengawasi kemunculan blog dan para bloggernya, yang mulai marak sejak lima tahun lalu. Menurut Muhammad Ali Dadkhah, seorang praktisi hukum hak asasi manusia, diperkirakan ada 50 bloger yang ditangkap selama kurun waktu setahun ini.

Isa Saharkhiz, anggota Committe to Protect Journalist di Iran mengatakan,"Tindakan keras terhadap para blogger merupakan bagian dari meningkatnya kebijakan sensor oleh pemerintah." (ln/aljz)



How Much DU Give Us Income?


Beberapa saat yang lalu, seakan kegelisahan dengan ketidak jelasan makna DU (Baca : Dana Usaha-red) memaksa munculnya sedikit aksi untuk segera menuntaskan sedikit dari banyak masalah yang ada.

Begini bung, biarkan saya mengingatkan ingatan kita lagi seperti apa strategisnya posisi DU ASTACALA dari sisi finansial saja. Mengapa saya katakan dari "sisi finansial saja"? karena sesungguhnya banyak hal strategis lain yang dapat kita lihat dari peran DU, salah satunya melihat siapa A'ers yang memang peduli dan yang tidak peduli. Tapi, saat ini kita tinggalkan saja subjek itu, karena akan susah menemukan ujung nya.

Ok, baiklah kita mulai. Dari sisi transaksi per 2 minggu, dalam laci DU yang tak seberapa besar itu bisa berputar uang kurang lebih 3,7 juta....Wowww. Dari semua itu, ada pengeluaran untuk membeli produkyaitu kurang lebih sebesar 2 juta. Nah, jika kita kurangi maka bisa kita ketahui bahwa keuntungan DU setiap 2 minggu nya berkisar pada angka 1,7 juta bung !!!


Bukan angka yang kecil, khususnya untuk saya..entahlah untuk yang lain. Karena dari pengalaman saya hunting harga alat paling murah untuk menambah inventaris alat sekre beberapa lalu, bisa saya kalkulasikan itu untuk membeli beberapa friend lagi, atau tali karmantel lagi, atau sit harness untuk climber ASTACALA, atau helm / boom untuk caver ASTACALA, atau...atau...atau...atau...

Eits..tunggu dulu, masih ada lagi, DU ga mungkin tutup bukan? Jadi dari 1,7 juta itu perlu disisihkan beberapa rupiahnya untuk memulai usaha kecil ini agar ia bisa memutar uang lagi. Nah, dari kalkulasi saya, beberapa rupiah yang kita sebut saja dengan MODAL TETAP itu bisa berkisar pada angka 1 juta. Bayangkan saja bung, dengan 2 lemari kulkas dan beberapa kotak makanan itu bisa menampung produk siap jual seharga 1 juta !!!

Nah saat ini, setelah membaca paparan saya saja, saya yakin anda pasti gregetan. Karena jumlah itu tidak lah sedikit, karena dengan jumlah sedemikian hingga itu anak A'ers tak perlu lagi beralasan ga bisa jalan karena ga ada duit atau alat ga ada, toh organisasinya cukup untuk memberi pinjaman cair agar yang bersangkutan bisa jalan atau membeli alat baru.

Apalagi bung, bagi kawan - kawan yang setiap hari mengangkat krat demi krat botol - botol itu dan membersihkannya ke dalam kulkas agar hari itu ada beberapa mulut lagi yang bisa minum dari botolnya. Lelah dan bosan akan rutinitas itu tak terasakan karena 1 alasan, setidaknya bagi saya pribadi : MUDAH - MUDAHAN ADIK - ADIK GW BEBERAPA TAHUN LAGI BISA MENIKMATI HASILNYA. That’s all

Saat ini, kegelisahan itu seharusnya segera saja musnah. Setiap manusia yang merasa dirinya nyaman untuk nongkrong di sekre A harusnya cukup sadar untuk memasukan uang dalam laci dan menyimpannya dalam lemari uang agar jumlahnya tak terlalu banyak hingga mencegah tindakan rampok, "pinjam dulu bentar", dll. Pun juga mengisi kembali 2 kulkas di depan pintu kita, agar setiap hari tetap ada botol yang menanti untuk dijual.

Repot??
memang.
Untuk bahagia atau berhasil itu memang repot. Untuk memetik buah itu memang harus menanam dulu.Tak ada hadiah untuk sebuah kemalasan. Saya yakin, kawan2 yang lulus PDA punya setidaknya 1 tujuan dari byk tujuannya lain: UNTUK BELAJAR SEBANYAK2NYA DARI ALAM dan MANUSIA LAIN. Inilah salah satu pembelajaran itu.

nb:
Untuk saudaraku yang pernah becerita "Sungguh menyakitkan rasanya, ketika capek masukin botol ke DU atau kerja di kebun belakang atau bersihkan alat, tapi yang lain malah nongkrong2 atau nonton TV seakan ga peduli sama sekali.". Yakinlah, untuk setiap usahamu itu ada maknanya. Mungkin saja, ketika kamu tak ada meraka juga berjerih payah seperti mu. Jika tidak, maka percayalah diantara keringat & lelah mu itu pasti ada harga nya. Toh kita disini untuk belajar sebanyak2nya bukan ? kenapa tidak coba beri saja yang terbaik untuk ASTACALA sebanyak dan seikhlas yang kamu bisa?


viva ASTACALA
Sekre ASTACALA - 22 Sept 2006, 15.30 –
-EnamDua Kabut Fajar-

(Tulisan ini juga tersedia di Forum Diskusi www.astacala.org)

Retorika yang tak kan habis..


Semakin lama semakin banyak yang tidak jelas bagiku
mungkin memang kapasitas otak ini yang tak sanggub
menampung hal - hal yang tak logis
dan kasat mata..

Entah apa arti esensi bagi kita
yang memberi sedikit makna dalam proses kaderisasi
Entah apa pula kaderisasi ini??
"Ah, sudah lah jangna ngomong yang ribet - ribet lu !!!"
Itulah salah satu teriakan dari sisi otak ku yang lain
Tapi pertanyaan ini tetap terngiang2...
Aneh....absud...kembali lagi, tak ada yang jelas!!


WAGU !!!
Apapun itu..aneh jika kita memberi arti sesuatu dan menganggapnya penting
tapi kita sendiri tak tau apa makna sebenarnya
Kenapa ini harus ku lakukan?
Kenapa pula tidak kulakukan?
Mengapa itu harus kuperjuangkan?
Mengapa pula itu harus kutinggalkan?

Kembali pertanyaan ini tetap terngiang2...
Bagaimana tidak...
Aku heran..apa arti sebuah pendidikan demi pendidikan
jika kita sendiri tak tau apa tujuan mendidik itu
Bagaimana tidak..
Ketika anggota muda yang mau sidang malah tidak ingat dengan jadwal sidang nya sendiri..

"Eits..., katanya mo ada sidang ANGOOTA MUDA ASTACALA ya MINGGU ini????
Kok gw kagak tau ya???
Padahal cuma mangkir dari sekre klo mo mandi atau boker di kos aja !!!!"
Aneh..

Semakin lama semakin banyak pertanyaan demi pertanyaan tak terjawab
di sini..
di tempat ini...
saat ini..
Kita suka dengan ketenanganan yang absud...
Berpura - pura tidak ada masalah...
Semua baik - baik saja....
Berlindung dibalik kalimat "Biarkan semua apa adanya.."
Dan menyambut datangnya gelombang matinya diskusi dan inisiatif.

Memulai dari yang kecil akan membuat nya jadi bukit.
Namun ketika hal kecil tak pernah disatukan ia akan selamanya menjadi hal kecil.....tak mungkin ia akan menjadi gunung yang menjulang tinggi!!!

Entah mengapa..dari dulu aku lebih nyaman berada dalam panas perdebatan dari pada berpura - pura merasakan kesejukan : every things is ok tapi sebenarnya tak ada yang ok.

Memang gus dur sering katakan "Itu aja kok repot!!"
Sebenarnya tergantung dari mana pula kita pandang repot itu
Lalu ada yang teriak..."Klo ga mau repot mending tidur aja dirumah sambil naik kuda terserah juga !!"
ha..ha..hal....kena lu...
Mau ikut organisasi kok ga mau repot...
Mau ngurus anak orang kok ga mau pusing...

Aneh...absurd..tak ada yang jelas...
Kembali lagi kata - kata itu datang "Biarkan semua apa adanya.."

Sekre ASTACALA
-EnamDua Kabut Fajar-

The Hits Of Me


I LiKe ThiS Song..I LiKe This...I LiKe This...DonT KnoW WhY !!!!

Samsons : Dengan Nafasmu

Dengan nafasmu aku hidup
Karena tawamu aku bahagia

Bersama dirimu aku tegar
Karena harimu adalah yang terbaik
Untuk dimiliki

Bridge
Dan biarkan aku mencintaimu
Karena dirimu yang berarti
Dan izinkan aku menyayangimu
Hanyalah dirimu yang berharga


Chorus :
(Bams)
Ketika kau ada disampingku
Hidupku pun terasa damai
Seperti yang telah terbayangkan dalam benakku
Saat hatiku ada di hatimu
Dunia pun menjadi indah
Karena hatimulah yang aku inginkan

(Irfan)
Karena hadirmu ku bermakna
Jadikan hidupku seakan di nirwana
Di alam dunia

Back to Bridge, Chorus

My Studio


Hari ini, kembali aku dapatkan masalah dengan listrik di kos tercinta. Ga tau kenapa, sepulang kuliah malam itu -lelah dan bau serta ingin cepat mandi sambil denger winamp- komputerku ga mau dihidupin, stabilizernya ga ngangkat. "sial !!!", umpatku dalam hati. Jadilah malam itu aku tidur tanpa nada apapun, tidak seperti biasanya, sungguh aneh dan membosankan.

Hari ini, entah mengapa akhirnya kuputuskan juga membawa kompi tersayang itu ke markas ASTACALA. Kebetulan juga, komputer yang biasa kami pakai di sana sedang intensif digunakan untuk TA pak ketua, sungguh ga enak klo dipake nge - net. Dari survey kebiasaan harianku pun menurutku sudah menuju kearah berbeda saat ini : tiba di kos langsung mandi-belajar sebentar-tidur. Paginya langsung mandi lalu ke ASTACALA atau ke Studio, habiskan waktu sampai sore jika tak ada agenda lain dan sorenya kuliah hingga malam. Begitulah, bisa kukatakan bahwa kompi itu hanya numpang parkir saja di kos, sementara uang listrik tetap sesuai standar pemakaian full day. "Bisa bangkrut gw", pikirku.

Saat ini, aku punya 2 komputer yang bisa kugunakan : 1 komputer yang dibeliin papa, 1 lagi komputer yang dipinjamkan STTTelkom untuk AsLab Studio. whoo...pokoke asik deh, nambah ruang kerja 1 lagi + komputer buat konsen ngerjain proyek TA euy...Oh ya, biarkan ku ceritakan tentang Studio. Sebenarnya ini hanya salah satu lab di jurusan If, bedanya ini lab baru dengan monitor LCD + procesor Intel 2,8 Ghz + Memory 512 + HD 80 G. Nah, mungkin inilah yang membuat nya menjadi berbeda dari lab lain, oleh karena itulah Pak Adrian yang punya lab ini (koordinatornya-red) memberi ide penyebutan lab ini sebagai Studio. "Ya Studio, bukan Lab", begitulah yang selalu dikatakannya pada kami bertiga, calon AsLab yang ditunjuk langsung oleh beliau. Dari 3 orang itu, 1 orang ga bersedia karena kesibukan lain sebagai Asisten Dosen, jadi tinggalah aku dan Anjar yang asisten Jarkom. "Ya, syukurlah setidaknya ada yang ngerti jaringan lebih dari gw yang bego ini", pikirku saat itu dengan sedikit khawatir.

Saat ini, saat sedang sendiri di ruang kerja ke 2 ku, Studio SKJK. Buka lab, bersih - bersih dan berikan public service yang baik, seperti yang diingat - ingatkan oleh Pak Adrian : "Lab itu bukan punya Asisten, tapi punya semua civitas STTTelkom". Ok pak, lets do this !!

Saat ini, sedang duduk di meja kerjaku sambil mencoba memberi sedikit warna pada calon proposal TA, menulis dan dengar winamp. Nada di dalam play listnya mengingatkan ku akan kamu, salah satunya ini :
What day is it.
And in what month.
This clock never seemed so alive
I can't keep up and I can't back down
I've been losing so much time

Cause it's you and me and all of the people
With nothing to do, nothing to lose
And it's you and me and all of the people and
I don't know why I can't keep my eyes off of you

All of the things that I want to say
Just aren't coming out right
I'm tripping on words, you got my head spinning
I don't know where to go from here

Cause it's you and me and all of the people
With nothing to do, nothing to prove
And it's you and me and all of the people and
I don't know why I can't keep my eyes off you

Something about you now
I can't quite figure out
Everything she does is beautiful
Everything she does is right

Cause it's you and me and all of the people
With nothing to do, nothing to lose
And it's you and me and all of the people and
I don't know why I can't keep my eyes off of

You and me and all of the people
With nothing to do, nothing to prove and
It's you and me and all of the people and
I don't know why I can't keep my eyes off of you

What day is it
And in what month
This clock never seemed so alive
-You And Me, LifeHouse-