einen Brief aus Hogwarts


Here I am. This is me.

There's no where else on earth I'd rather be .
..
It’s a new world. It’s a new start.

It's a live with the beating of young heart.
It's a new day. it's a new plan.

I've been waiting for you.

Here I am..*


Di hari – hari seperti ini, ketika umurku beranjak, aku tiba – tiba teringat sepotong memori lebih dari 20 tahun lalu, ketika seseorang datang kerumah kami, dari Bandung, menyodorkan oleh – oleh untukku, kakak, dan abang, masing – masing sebuah coklat, yang -dalam ingatanku- masih merupakan coklat paling enak dan besar yang pernah diberikan padaku. Beliau, yang terus berada dalam ingatan masa kecilku itulah, yang bahkan sudah sedikit lupa aku wajahnya dan belum pernah kutemui lagi, mulanya kukira sebagai pilot pesawat, ternyata kemudian baru kuketahui adalah insinyur pesawat terbang, adalah om Tata, adik bungsu Mama kami. Aku bahkan saat itu tidak cukup mengerti apa itu insinyur. Pemahamanku hanya sebatas saat ayahku mengatakan, "adek belajar ya nak, supaya punya ilmu seperti om Tata dan Habibie, bikin pesawat terbang". Dengan memori dan pemahaman sederhana itu jugalah, keluguan masa kecilku sempat meminta pada Yang menciptakan, "Aku ingin belajar jadi insinyur pesawat seperti om tata dan habibie di jerman". Sesederhana itu, aku bahkan tidak terpikirkan bagaimana permintaaan ini akan terwujud ketika ia pertama kali terucapkan. Ya, Adalah om Tata, yang menghubungkanku pertama kali dengan kata Jerman dan Habibie.

Saat kuberanikan menyampaikan angan itu sebagai doa agar ia menjadi cita – cita, dalam pikiranku hanya ada kata – kata yang lalu mengarahkan langkahku... uhm, bukan langkah mungkin tepatnya, tapi kayuhan sepeda... Ok, kayuhan sepeda tentu bukan berarti bersepeda ke jerman, tapi menemaniku belajar bahasa jerman ke Goethe Institute di Bandung. Rencana ini berarti membutuhkan waktu kira – kira 2 jam ditempuh bersepeda dari kampusku saat itu di Jl. Dayeuh Kolot ke Jl. Marthadinata agar tiba cukup waktu (termasuk mandi kilat di toilet GI, dan menikmati panganan kecil kafetaria di taman untuk sekedar mengembalikan energi) sebelum kelas grunstuffe / dasar setiap Senin – Jum’at dari pukul 04.45 sore hingga 08.00 malam, selama 1 semester itu dimulai.


Aku ingat sekali, ketika memilih sepeda pertamaku itu, merah warnanya, yang bukan karena aku suka warna merah, tapi karena memang kebetulan itu yang ukuran dan harganya cocok dengan anggaranku yang sedikit dari tabungan bulanan sebagai mahasiswa kere. Aku ingat, kuniatkan saat itu, sepeda ini yang akan menjadi pengantarku ke jerman, sebelum akhirnya… hilang dicuri disiang hari ketika orang-orang sedang shalat Jum’at, 1 hari menjelang ulang tahunku yang ke-23. Guru kami, yang 14 orang dalam kelas itu, Frau Suci, adalah yang pertama kali mengajarkan padaku bahasa dan kebudayaan Jerman. “Guten Tag, wie geht es Ihnen ?”, begitu kira – kira dengan hangatnya beliau menyapa kami disore itu. Kelak, 6 orang dari kami bersepakat untuk lalu belajar secara private di rumah beliau setiap hari Senin hingga Jumat, untuk persiapan mengikuti ujian ZD, yang merupakan syarat mendaftar perguruan tinggi di Jerman.


Tapi saat itu, aku bahkan masih juga belum bisa memutuskan hendak melanjutkan kuliah ke universitas apa, dan bagaimana mewujudkannya. Saat itu pertimbanganku sederhana saja : Pertama, aku bahkan belum lulus sarjana, dan masih berkutat dengan tugas akhir; Kedua, mendaftar di program studi yang masih menggunakan bahasa jerman pada umumnya -saat itu- masih belum dikenai biaya, atau kalaupun ada, nominalnya lebih kecil dibandingkan dengan biaya untuk kelas internasional (menggunakan bahasa inggris). Lagipula, seperti kata pak Habibie, menguasai bahasa jerman untuk kuliah di jerman tentu akan banyak manfaatnya. Bahasa ini juga banyak digunakan di Eropa, tidak saja di Jerman. Yang penting pegang ZD dulu ditanganlah! Begitu pertimbangan sederhanaku.


Namun, disanalah perjalananku menuju pada arah lain, karena beberapa bulan setelahnya aku putuskan untuk tidak lagi mengikuti kelas bahasa jerman itu. Aku ingat, waktu itu pertanyaan sederhana Frau Suci-lah yang membuatku mempertanyakan ulang konsep cita – citaku, “Mengapa harus Jerman ?”. Nasipku memang tidak seperti Ikal, yang beruntung telah dikenalkan dengan Sorbon-nya semenjak belia, sehingga ia tau benar apa yang akan diraihnya dan kemana ia akan menuju. Sedangkan bagiku, pertanyaan itu tidak mampu kujawab, karena aku tidak punya jawabannya. Pertanyaan itu juga yang menyadarkanku, tidak ada orang yang sanggup duduk di 2 apalagi 3 kursi dalam waktu bersamaan kecuali terjatuh dari semuanya. Aku masih bergulat dengan tugas akhir, ditambah amanah lain yang diberikan padaku, dan lalu mengikuti persiapan ujian ZD pula. Dan kenyataannya memang, aku tertatih – tatih menyelesaikan semuanya, hingga akhirnya kuambil keputusan, ok..stop here, I need to be focus. Aku berhenti dari kursus bahasa jerman, dan tidak pernah mengikuti ujian ZD itu.


Setelah kuselesaikan tugas akhir, aku siap untuk melanjutkan lagi salah satu cita – cita yang masih tertinggal. Aku ingat, ketika akan memulainya, aku mengajukan proposal resmi pada ayahku. Resmi bukan berarti mengajukan buku dan semacamnya, tapi membicarakan niatku disuatu sore dibulan Syawal. Menakjubkan, setelah beberapa poin diskusi waktu itu, ayahku yang sedang menyetir itupun sampai pada pertanyaan yang sama, “Mengapa harus Jerman?”. Aku tercenung beberapa saat tidak mampu beragumentasi, karena aku tidak punya jawabannya dan bahkan hingga saat ini pun aku tak punya jawabannya. Jawaban atas pertanyaan sederhana yang harusnya sudah kumiliki sebelum berargumentasi mengenai hal – hal yang lebih spesifik dan rumit.


Dan nasip berkata lain, saat ini hampir 2 tahun setelahnya, dan puluhan tahun sejak aku berkata “Aku ingin belajar jadi insinyur pesawat seperti om tata dan habibie di jerman”, aku bahkan tidak pernah sekalipun mengirimkan pendaftaran ke satu universitas-pun di negeri itu dan tidak pernah belajar bagaimana membuat pesawat, seperti angan masa kecilku itu. Mengherankan bagiku, bagaimana mimpi yang begitu lama terpendam dalam otakku ini, ternyata bisa dibalikkan perlahan – lahan tanpa kusadari. Allah yang Maha menguasai hati ini, Maha mengetahui segala rahasia hidup. Pertanyaan yang sama dari ayah dan guruku itulah, yang pada akhirnya dalam semua usahaku untuk melanjutkan kuliah -dari mencari informasi, mendaftar, ditolak, mendaftar lagi, ditolak lagi- semuanya, tidak pernah sekalipun mengantarkanku ke Jerman, tapi jauh ke utara, menyebrang ke Skandinavia. Nah, untuk yang satu itu, aku sudah punya jawabannya bahkan sebelum aku bertanya. Aku ingin belajar satu – satunya dari sedikit ilmu yang benar – benar ingin kupelajari: komunikasi bergerak.


Awalnya aku ingin melanjutkan ke program Erasmus Mundus NordSecMob, yang menurut yang kubaca memiliki beberapa kursi beasiswa, dan belum ada pelajar Indonesia yang pernah lolos seleksi sejak program ini dibuka 2007 lalu. Sesuai dengan konsep program, yang memungkinkan mahasiwa untuk kuliah di minimal 2 negara berbeda, maka setiap pendaftar diminta untuk memilih skema pendidikanya sendiri. Waktu itu hanya ada 2 pilihanku, pilihan pertama : Finlandia di tahun pertama, Swedia di tahun kedua, atau pilihan kedua: Swedia di tahun pertama, Finlandia di tahun kedua. Intinya sama, Finlandia dan Swedia. Yap, dan pilihan itu entah mengapa, padahal ada beberapa negara Skandinavia lain, hanya jatuh ke Finlandia dan Swedia, the Land of Viking. Dan perjalanan nasip tidak berhenti melucu sampai disitu, kenyataannya kedutaan kedua negara ini di Jakarta juga berada dilantai gedung yang sama dan bersebelahan pula, yang kelak baru kusadari saat melangkahkan kaki ke kedutaan untuk mengikuti phone interview untuk seleksi masuk salah satu perguruan tingggi di Finlandia tengah.


Pilihan ini tidak kubuat dengan aspek melankolik, tapi setelah melihat kemana spesifikasi dan kualitas setiap universitas, serta kenyataan bahwa melanjutkan pendidikan ke kedua negara tersebut -hingga saat pilihan itu kubuat- masih ditanggung oleh negara alias tidak dipungut biaya, yang artinya bisa berfokus bagaimana menutupi biaya hidup. Pilihan ke Finlandia, berarti melanjutkan kuliah di TKK (sekarang Aalto University - School of Science and Technology), yang bersebelahan dengan –salah satunya- HQ Nokia di Espoo dengan program  Service and Security-nya, sedangkan pilihan ke Swedia, berarti melanjutkan kuliah di KTH, yang bersebelahan dengan –salah satunya- HQ Ericsson di Kista dengan program ICT and Enterpreneurship-nya (sekarang menjadi Communication Systems). Keduanya, sama – sama berada di urban area ibukota, Helsinki dan Stockholm..jadi hampir mirip – mirip seperti konsep Dayeuh Kolot untuk ibukotanya, Jawa barat, dengan cita – cita HighTech Center-nya, tempat alamamaterku berada *amin.


Tapi, arah nasip tidak pernah membawaku menuju keduanya sekaligus. Kenyataannya, aku tidak pernah lolos seleksi program itu, setelah ditolak 2 kali, pertama karena 2 alasan : satu, dewan seleksi tidak mengenal yang namanya S1 Ekstensi, yang merupakan jalur pendidikan yang kuambil setelah lulus D3. Kedua, saat itu almamaterku yang sedang menuju world class university entah mengapa belum tercantum dalam daftar universitas dunia versi UNESCO. Padahal, salah satu syarat dapat lolos tahap administrasi adalah hal itu. Setahun setelahnya, dipercobaan kedua, membuatku mengajukan penjelasan terlebih dulu ke dewan seleksi di Finlandia, sehubungan dengan konsep S1 Ekstensi ini, dan untungnya, saat itu ITTELKOM sudah terdaftar didalam UNESCO, sehingga aku lolos tahap administrasi. Alhamdulillah..beberapa bulan setelahnya, sekitar Januari 2010 itu, keluar juga pengumuman hasil seleksi program ini : DITOLAK, kali ini dengan alasan yang jauuuh lebih banyak dari penolakan yang pertama, yang intinya, aku termasuk 1 dari 292 kandidat yang tidak termasuk dalam beberapa orang yang beruntung. As simple as that... dan kedua kegagalan itu tidak dan tidak akan pernah kusesali. Tidak perlu bersedih terlalu lama. Kegagalan ini hanya akan menambah kearifkan bagi karakterku dan mengajarkan untuk menghargai arti keberhasilan.


Belajar dari itu jugalah, bersamaan dengan percobaan kedua, aku mempersiapkan beberapa rencana cadangan sekiranya pilihan pertama itu gagal: Berkompromi !! Aku persiapkan diri dan lebih banyak dokumen, untuk mendaftar lagi ke 4 program lain : 1 di universitas di Finlandia tengah, 1 di universitas di Swedia utara, 1 ke KTH, dan 1 ke TKK. Keempatnya berfokus pada komunikasi bergerak, dengan beberapa keunikannya masing – masing. Program master di Finlandia tengah menawarkan tambahan pada aspek bussiness, masing – masing program master KTH dan TKK adalah “setengah” dari program NordSecMob. Setengah, karena NordSecMob adalah join program dari minimal 2 universitas berbeda. “Jadi, kalaupun aku tidak dapat keduanya, setidak nya dapat salah satunya”, begitu yang menjadi pertimbanganku. Program di TKK menawarkan tambahan aspek security, sedangkan di KTH dengan entrepreneurship-nya (kelak, dengan penambahan spesialisasi juga pada wireless network)

Pendaftaran dan pengiriman dokumen admissi ke universitas di Swedia –untungnya- sudah terpusat (Studera), jadi cukup mengirimkan 1 paket dokumen untuk mendaftar ke berbagai program studi dan universitas, begitu juga ke universitas di Finlandia (University Admission to Finland), yang berarti akan sangat menghemat biaya, khususnya biaya pengiriman dokumen. Namun, TKK dan beberapa universitas lain hingga saat itu belum termasuk didalamnya, yang artinya harus mengirimkan dokumen terpisah. Sehingga, hanya 3 dari 4 rencana itu yang kulakukan, karena aku tidak pernah mendaftar dan mengirimkan dokumen apapun lagi ke TKK. Dan alasannya –kubuat menjadi- sederhana saja, sudah tidak ada uang lagi untuk mengirimkan dokumen..well, kalaulah boleh jujur, memang ada sedikit alasan melankolik didalamnya, setelah 2 kali ditolak.


Tapi, aku berjanji pada diriku sendiri, sejak dari awal, ketika aku masih mengumpulkan informasi tentang universitas ini, kelak aku akan bertemu dengan Prof. Antti, Dumbledore-nya program itu, memperkenal diri dan berkata, “Profesor, my name is Laili Aidi, I was not admitted in your program several years ago, and now I’m very lucky to see you and still hope I can get another opportunity to learn with you”. Amin.


Ditengah proses itu pula, aku mencoba peluang beasiswa lain, ikut dalam seleksi beasiswa luar negri Kominfo. Untuk itu jugalah, aku ikuti tes TPA Bappenas di almamaterku di Bandung, yang menjadi salah satu syarat beasiswa. Menjadi menarik bagiku, yang baru kusadari kelak setelahnya adalah, tanpa kusadari hampir semua informasi atas hasil dalam proses ini, kabar keberhasilan ataupun kegagalan, kudapatkan di hari puasa sunah, Senin atau Kamis, dan umumnya ba’da Ashar. Subahanallah... Disanalah aku, beberapa bulan setelahnya mendapat kabar kelulusan di program master di Finlandia pada kamis, ba’da magrip itu. Namun, ditengah euphoria, sesuai rencana, aku tetap putuskan akan menunggu hasil seleksi di Swedia sebelum membuat keputusan apapun.


Seminggu setelah itu, kudapatkan kabar lagi, bahwa aku termasuk dari 82 orang yang lolos ke tahap kedua seleksi beasiswa kominfo. Hingga senin pagi itu, aku berada di kantor kementrian, ketika dipanggil menghadap 3 orang pewawancara. Entah mengapa saat itu tidak ada sedikitpun kekhawatiran padaku, mungkin karena beberapa hari sebelumnya, aku sudah menghadapi pula sesi interview yang sama walaupun berbeda bentuk, dan juga dengan tujuan berbeda pula : seleksi tahap dua master program di Finlandia tengah. Lagipula, menjadi khawatir atau tidak, tidak ada manfaatnya sama sekali saat ini, begitu pikirku. Kubuyarkan semua kekhawatiran bahwa aku tidak membawa berkas asli yang diminta oleh panitia seleksi, yang tidak disampaikan pada pengumuman. Ok, sudahlah, mari hadapi satu persatu.

“Selamat pagi”, ucapku menyapa 3 orang pewawancara waktu itu, kesemuanya adalah laki-laki, 2 diantaranya kulihat dari papan namanya, bergelar DR. And here we are… : “kenapa anda layak mendapat beasiswa ini? kenapa anda memilih program studi ini? apa yang ingin anda capai dalam 5 tahun kedepan? kenapa swedia? bisa jelaskan tentang riset anda? mengapa kista? anda sudah menikah? anda berapa umurnya sekarang? tidak takut tinggal di daerah dingin begitu di utara?” and so on... Aku ingat waktu itu aku sempat sampaikan bahwa aku telah diterima di salah satu master program yang menjadi pilihan kedua bagiku, dan sedang menunggu hasil seleksi pilihan pertamaku di swedia, yang merupakan bagian dari aplikasi beasiswa itu. Selama seleksi itu, tidak ada sedikitpun kekhawatiran, dan ya… aku lakukan apa yang terbaik dari apa yang mampu kulakukan.


Apa mau dikata, suratan takdir tidak menuliskan aku mendapatkan beasiswa itu sebagai bagian dari rezki untuk melanjutkan pendidikan, sebuah kabar yang, lagi, kuterima pada Senin, ba’da ashar itu. Seakan godaan untuk menyerah saja tidak berhenti sampai disana, berturut – turut datang kabar bahwa aku lolos seleksi dan mendapat panggilan bekerja di 3 perusahaan sekaligus : di bank milik pemerintah, di perusahaan card system dari prancis, dan di sebuah operator telekomunikasi. Panggilan bekerja setelah tahap seleksi yang melelahkan dan berbulan – bulan, namun kemudian datang disaat seperti ini, kesemuanya dengan tawaran gaji dan fasilitas yang akan memaksa orang yang masih waras berpikir ulang untuk menolak. Tapi siapalah aku ? keputusan sudah dibuat, apapun yang terjadi pasti akan terjadi, tidak peduli apakah itu didalam kendaliku atau tidak. Dan ya, aku menangis, dan memang betul, aku kecewa. Namun tugasku adalah untuk terus berlari, berusaha dengan kemampuan terbaikku, menyelesaikan apa yang sudah aku niatkan untuk dimulai. Aku harus membuat pilihan. Karena, tidak ada seorangpun yang mampu duduk di kursi yang berbeda dalam waktu bersamaan kecuali terjatuh dari semuanya. Sebuah pelajaran berharga yang akan selalu kuingat, dari Frau Suci, guru bahasa jermanku.


Inilah memang garis hidupku. Setidaknya sedikit lebih beruntung dari Harry Potter, tidak sedang mendapatkan kiriman yang ditujukan ke kamar dibawah tangga, ketika seekor burung hantu ajaib membawa surat yang bisa berbicara dari Hogwarts. Dan aku, memang bukan Ikal, yang sanggup memberi hadiah pada orang tuanya, sepucuk admission letter berikut beasiswa-nya dari Sorbon University. Disinilah aku, masih mengejar cita – citaku, mencoba menjadi manusia yang lebih baik, saat beberapa hari setelahnya, seakan mencoba membantuku mengukuhkan keputusan ini, orang tuaku menelpon memberi kabar: “ada kiriman paket baru tiba di rumah untuk adek, dari Stockholm”, surat dengan isi yang sama dengan email yang kuterima 2 minggu sebelumnya. Bagaikan sebuah surat dari Hogwarts bagiku : dari Kungliga Tekniska Högskolan – Royal Institute of Technology, berisi ucapan bahwa aku termasuk dari yang diberi kesempatan untuk dapat belajar disana.


Bukankah bagaimanapun, Allah yang Maha mengetahui dan menguasai jalan hidup ini, selalu hanya memberikan pilihan terbaik untuk menjadi kenyataan hidup? Bukankah ketika Ia mengambil sesuatu, Ia selalu akan mengganti dengan yang lebih baik? Apapun yang akan terjadi, pasti akan terjadi. Semua keberhasilan dan kegagalan, kegembiraan dan kesedihan, kemenangan dan kekalahan ini yang pasti akan selalu kuingat untuk disyukuri, sebagai bagian dari perjalanan hidupku. Pun, hanya akan kujadikan pelajaran berharga, untuk menambah kearifan dan kekuatan bagi karakterku.


Dan... tidak akan ada tempat untuk berbalik, apalagi keraguan. Ya... seperti angku Hatta, Tan Malaka, dan Habibie berpuluh tahun silam... akupun, membuat pilihan. Bismillah..


Al-Kahfi

Catatan dari penghujung Mai.


*Bryan Adams - Here I am

Orang - orang gila

Pembicaraan gila,
untuk ide gila,
dari orang – orang gila,
dengan cita – cita gilanya.
Bismillah..

Si Gila 1
dd/mm/2010 hh.27 xm
Hai, ada update apa nih ? gimana scholarship nya ?

Si Gila 2
dd/mm/2010 hh.41 xm
Hai friend, belum ada info nih, gw rencana menunggu sampai minggu depan dulu, baru mulai ajukan resident permit. Mudah – mudahan ga telat ntar kelar permit nya. Lo gimana, udah make decision ?

Si Gila 1
dd/mm/2010 hh.45 xm
Belum, bingung nih. Kepastiannya minggu depan  ya ? wish you luck ya


Si Gila 2
dd/mm/2010 hh.50 xm
Ga tau, minggu depan itu cuma limit dari gw buat menunggu, karena critical section di resident permit. Gw harus apply sebelum juni, setelah itu bisa lama prosesnya..secara, the whole Europe seems will take holiday for summer. Lo jadi pilihannya apa aja ?

Si Gila 1
dd/mm/2010 hh.55 xm
Gw masih menunggu announcement dari uni di Italy, Singapore sama Brunei. Klo yang kemaren – kemaren kayaknya gw lepas deh, secara itu full self funded, dan gw ga dapat scholarship disana

Si Gila 2
dd/mm/2010 hh.59 xm
Italy bagus tuh, dream list lo kan ? Klo mo coba ide gila , anterin proposal scholarship ke xxx. Senior kakak gw dulu pernah nyoba waktu di yyy, dia dosen. Just give a try, klo lo yakin banget sama kesempatan sekarang ini, tapi benar – benar mepet and lo sempat ngurusin, try your luck and forget, nothing to lose kan. Okay, sukses and keep contact ya

Si Gila 1
dd/mm/2010 hh.05 xm
Ide gila ya, hm.. coba gw discuss sama orang tua dulu kali ya soal itu ? oke wish we are lucky, keep contact ya

Si Gila 2
dd/mm/2010 hh.10 xm
Kita shoot target buat ini aja sudah cukup gila, kenapa ga sekalian aja. Jangan takut, kita cuma bisa coba semua kemungkinan, pada akhirnya Allah saja yang tentukan yang mana jalannya. Insyaallah, pasti hanya dikasih pilihan yang terbaik


“Hai orang – orang beriman,
jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.
(Al-Baqarah: 153)

Harapan


Harapan yang dalam adalah pembentuk kerendahan hati yang mudah menerima yang kecil dan yang sederhana, sebagai syarat bagi pencapaian dari yang besar dan yang sulit. Harapan … alangkah mulia Tuhan yang menciptakan harapan sebagai penghubung yang nyata antara jiwa kita dengan-Nya.

Marilah kita tetapkan di hati baik kita, bahwa sesedikit dan sekecil apa pun sebuah harapan itu, ia tetap sebuah harapan. Karena, tidak ada keberhasilan sebesar apa pun yang tidak bisa dicapai melalui harapan, walau sekecil apa pun harapan itu. Maka sebetulnya, harapan adalah penghubung antara sepedih-pedihnya keadaan dengan seindah-indahnya kesyukuran.

Sahabat saya yang baik hatinya,
Harapan di hati baik Anda itu, adalah pengindah doa-doa Anda, pengindah wajah Anda, pengindah suara Anda, dan pengindah sentuhan Anda. 

Harapan di hati teguh Anda itu, adalah penguat kesungguhan Anda, penguat pendapat Anda, penguat permintaan Anda, dan penguat upaya Anda. 

Harapan di hati utuh Anda itu, adalah pengindah pribadi Anda, dan penguat peran Anda bagi kebaikan sesama.

Harapan di hati mulia Anda itu, adalah yang menjadikan Anda kekasih Tuhan yang dibebaskan dari kesalahan - kesalahan masa lalunya, yang dijaga dalam perjalanan yang lurus, yang dikuatkan untuk melakukan yang tidak biasanya mampu dilakukan oleh orang lain,  yang dimudahkan untuk merampungkan tugas-tugas besar, yang disahabatkan dalam pergaulan dengan calon-calon penghuni surga,  dan yang ditata keindahan kehidupannya di dunia – sebagai awalan rasa dari kehidupannya di surga.

Amien …

Maha Suci Tuhan yang meluluhkan hati yang kaku.
Maha Penyayang Tuhan yang menghaluskan hati yang kasar.
Maha Pengasih Tuhan yang melembutkan hati yang pemarah.
Maha Pemaaf Tuhan yang menjernihkan hati yang kusam.
dan Maha Mulia Tuhan yang membangkitkan jiwa yang putus asa.

Dan semoga kita menjadi jiwa-jiwa yang diutamakan penyelamatannya, karena keikhlasan kita untuk tetap berharap kepada Tuhan.

Mario Teguh - Harapan Adalah Pengindah Dan Penguat

Waiting the clock ticking with GMT+1



*a moment of waiting for final announcement from studera.nu for admission in master programme

Moving Forward


Jakarta, 3 o'clock in the morning.
I cannot not sleep, as my head cannot stop to spelling words inside
So decide to write it down.
..
..

The Battle Field
I came to that building maybe around 1.30 o'clock. Founding there were 2 securities at the check point gate. "Selamat siang", I said. "Lantai 9." The security guard then asked for my ID card. As I already prepared how to respond this query, I asked him if I can give the other ID card, such driving license, because I will need my ID card up stair. He said okay, while when that short conversation, I heard 2 peoples came and said to the guard "**** embassy, she is with me." He pointed out the woman that walks with him.

I then remembered that I just passed them while I was walking fast through this building couples minutes ago. Uhm...first fortuity...I thought. So, I went to the lift and pointed out 19, then I suddenly arrive at that floor. Little bit confusing for a while, I looked for some word to be read, and then I saw:

"<-- Finland Embassy"

"Sweden Embassy -->"

I just suddenly smiled at that time, when I was walking through the lift door. Another such fortuity again, because this flag just presented my condition at that time, until now actually. Which one ? Finland or Sweden? Uhm...but I think, that is not really important at that moment. “There is only one thing need to be focused right now, the interview session”, I said. Yep…actually, that was also my first phone interview session too, the first interview session from abroad, for the most important purpose of my target.

So, I walked through the left side, and saw glass door with security machine waiting in front of, that ask for every person to define some numbers before enter it. Little bit confusing again, I saw there were 2 women, Indonesian, actually were talking inside. The one of them -maybe- realized there was a confusing person outside, when she stood and opened the door for me, asking: "Yang mau interview ya?”.. "Iya buk", I answered her. Then she welcomed me, asked me to wait and take a sit.



There were 2 round tables in the left, with receptionist desk board at the right. I took my sit, backed the front main door and faced to the other door, which I predicted as the door where the embassy advisor will come out. I saw an interesting campaign leaflet, seems to support Nobel Prize nomination of Finland scientist. At my back, I saw bookcases, contain guideline leaflets about Finland. That was around 2.00 pm o'clock at that time. Well, my interview session still 1 hour further, at 15.00 o'clock Indonesia time or 11.00 o’clock Finnish time (09:00 GMT + 1). That was what I read at the letter from Ms Niina, the international coordinator that contacted me several weeks ago.

Actually, my schedule should be at tomorrow, not today, Tuesday. But, I asked to Ms Niina, if the selection board could change the schedule because I cannot make it up if this interview conducted at Wednesday. Actually,  it  because my boss already arranged me to attend 2 days course from Forum Nokia APAC, *I did not say this reason lol :p*.

Around 15 minutes of waiting, a woman came from the door and walked fast through me, said  
"Hello... you are the person that has been arranged for phone interview today?”

I stood and responded her,
"Yes, my name is Laili Aidi. I have appointment with Secret University for phone interview at this 3 o'clock". 

At that time, what I worry about came out, when I was not quite sure how to spell xxx :p.  
"oh well, ****** (the university's name).”  She repeated it again, to correcting my spelling :p  

“Actually it should be tomorrow, don’t you ? But the university just confirmed to arrange the time again so it can be today. So your name is Laili ? Nice to see you, well my name is Leila. We almost have the same name." She laughed. hee...well..well.. Such fortuity again.. Already 3rd with this one, I though.

When heard her first couple words, at that several seconds, I just suddenly realized that I should use the moment of talking with her as opportunity to get use of hearing and responding such English -little bit- Russian dialeg.  I wonder, my Interviewer would have big possibility to have such the same dialeg with her.

"Well, how the interview will be held ?", she asked me. He.. ? Surprising by this question, I tried to spell uhhmmm word a little while, because there was no detail has been told by the university. I though they already set up the detail with the embassy, then I just need to bring my ID card and my body :p. "well.." I said, "Ms Niina, the international coordinator that contacted me before, just instructed me to bring ID card, and come in advance because I need to pay the phone bill to the embassy".

At that time, I thought that the embassy that will make that international call to the University. "She informed me that the fee is 500.000 rupiahs an hour, but the interview itself will be no longer than half an hour. Is that means that I should pay 250.000 rupiah ?" I asked her.

"Uhm, I’m not sure about that, let me check that for you. But you don't know how the interview will be held ?", she asked again. "The university only told me to attend and prepare for interview at the embassy at 3 o'clock", I answer her with little bit not so sure *lol

"Okay, do you have her number with you ? Do you bring your mobile phone ? I think you need to call them in order to make sure".  oh gosh... I wonder how much phone pulse that I have in my account to make international  call to Finland right now.. T_T

Then I said to her, "I wonder, maybe we can wait until 2.30 pm and wait for them to inform the advance information ?", tried to save my face and gave the best idea that I have at that time. 

"Uhm okay, that is better. Now I will go inside, check the fee detail for you and several administration purposes", she said.

Fighting session
Then, I waited for that almost 1 hour. It was okay, I though. Because the longer I get use and familiar with this place, the more I will get relaxed with the interview session. So, I enjoyed my time, go to the toilet, read as much article that I could read at the bookcase. The most exited booklets that I pick were about the Finland’s culture, their country, their economy, government, the wealth.. And of course the education system. 

At that time I only brought with me my note, contain several reasons why I choose this program, why I choose this university, what do I know about the purpose of the program, and so on. I though at that time, that all facts were already inside my head. But. It was not, especially when you get very nervous and hard to realized what have been asked to you :p

Yep, it began when suddenly Ms Leila came out from that door again, said to me that the connection in the embassy was very poor and she asked me to bring just my mobile phone with me inside, because the university will contact me through my mobile phone.. Haaaa ???

How can ? I was quite surprised. first, she did not allow me to bring my note with me, which contain all my ammunition to the interview. second, I will use my mobile phone to this my international phone interview test. how can ???

I was still thinking when she guided me inside the embassy room, and tried to make me comfortable by showing me the view of Ambassador Mall, Mega Kuningan road and park from the window.   

"Please take a sit", she said. 

I said, "Okay, thank you very much", but because  I was still confusing and cannot breath, I kept stand, pretending to see the view outside. Well, that was actually the first time I faced the Finnish hospitality. I read that Finnish tend to be quite person, when they said something or offering you something, that is what he/she really mean to. It's not like Indonesian culture, when you sometimes should figure out, if this person really offering you something or “just” offering you :p

So, I assume, when Ms Leila saw that I did not take a sit at the chair which she offered me, then she asked me to move to another room that more comfortable :p Actually, that is a meeting room.   

"Uhm, I think we can use another better room… Okay, let’s just wait there, the university will call you in a couple minutes. You already make sure your mobile phone working right ? Is that the signal is okay in here ? Okay.. So I wish u good luck." She then left me there.

krik..krik..krik...

Then I heard Michelle Buble's song rang from my sonyericsson phone. *see ? it's not Nokia, it's sonyericsson *lol"

+35814.. that was the first numbers that I could read

Me : “Hallo..good afternoon”

A woman voice : "Hallo.. good afternoon, this is Laili Aidi ? How are you ? I’m Niina, The international Coordinator of Secret University, we have been talked through email. You will be interviewed by Mr. xxx and Ms. yyy around half an hour. Are you ready? Now I will connect you with them.”

My gosh.. so fast, my heart was beating faster, I felt like cannot breath, and I could not think as fast as I need to. *lebay*

Then I heard voice of a man, "Hallo..this is Laili Aidi ? My name is yyy , how are you ? can you hear me clearly ?", he asked me. I was still thinking and tried to get comfortable with his dialeg.

Me : "Yes sir, I’m Laili Aidi. yes, I can hear you clearly enough. I’m fine, how are you too sir ?"

A man voice (Mr. xxx) : "Oh well, good.. we wait for Ms yyy join with us"

A woman voice (Ms. yyy) : "Hallo.. halloo.. hai Laili, I’m yyy..okay, everybody already here, can we start the interview now ?"

Me : "Yes, that would be my pleasure"

So there I was, not quite sure with what I have answered.. or questioned. all the things that I have learned and remembered inside my head just suddenly disappeared. I did not know what I said, and little bit panic when I could not interpret what has been asked, with English Russia dialeg.

But as I said before, Finnish people are just the nicest person I’ve ever met. My interviewers just keep patient while repeating, sometimes 4 times, for what has been asked because I could not clearly enough to hear that, or could not interpret the English words. I’ve been asked couple questions that surprise me. This such questions are common, such as 
Ms. yyy : “Why do you want to study Secret program ?”, or 
Ms. yyy : “What do you expect in your life in 5 years?”, or 
Ms. xxx : “Why do you choose Finland ?”, or 
Ms. yyy : “How much the living cost there?

Well well well.. those were still okay, but what about these : 
Ms. yyy : “Do you know how big the city of "Secret City"?” or
Ms. yyy : “How many people life there?”, or
Ms. yyy : “How do you know about the way to reach the city from Helsinki ? How many hours is that from Helsinki ? ”, and so on…??

But, 30 minutes later, the man said,
"Okay, I think that is enough for the interview session. Ms Niina will get in touch with you sooner to announce the result. We expect to launch that before the end of the month."

Me : "Yes sir, I’ve read that information. I will wait for that announcement, as I read that the university only accept around 25 students from 40 candidates"  *sotoy

Mr. xxx : "Yes, we are interviewing 40 candidates at this moment, but the 25 is the maximum number, we might be only accept less than that, depend the interview review" * T_T

Me : "I get that sir, I hope I am one of them, as I will wait for announcement" *ngarep :p

Mr. xxx : "Of course, we all hope for the best. okay, that is a nice interview with you. On behalf of the university, I thank you for attend to the embassy for this interview."


Me : “You are welcome sir, and I also thank you for the opportunity that has been given by the selection board for me to get to this interview Sir."

Mr. xxx : “Okay, we wish good weather there for the whole week. see you”.

Me : "See you sir”.

tiit..tiiit.. tiiiiit.. tiiiiiiiiiiiiiiiit...

So it was done. That was it. 

Ms Leila came to me, gave big smile and said,
"Okay, already done ? how is the voice ? it is a little bit rrrr..rrrrr..rrrr.. don’t you ?"

Me : "Yes, since that is international call, and I only use cellular connection bla..bla..bla" *Anyway, thanks to indosat :p

Ms. Leila : "Okay, I will take you out, so we can talk about the payment. I just confirm that the payment is a hourly session, so it will be cost same even if you make phone call for half an hour"

I wondered, that is me that receive the phone call, not the embassy make the phone call, so why should I pay? Then I just understand that, that payment is for university as they make that phone call. In conclusion, it is me actually keep pay for that, no matter who make the call :p

So, I have a couple minutes conversation with Ms Leila again at the front desk. The interested thing was that she did not want to straight forward and immediately asked for the payment from me, even when the receipt was already in the table. She kept asking me about questions or gave me new information; even I've already given that 500.000 rupiah and put that to the table. She asked me, why I choose Finland, when will I arrange visa because it need to be arranged as soon as possible as it will take couple of weeks even for student visa's purpose. *Well it's not visa, but Resident Permit lol*

"Well, I will do that, but I need to wait for the acceptance letter first and make passport", I responded her.

Ms. Leila : "Owh, you don’t have passport yet ? well.. You need to make it immediately because you will need that to arrange visa" lol

So there I was, walking out through the Finland Embassy and saw Sweden Embassy's door at the other side. 

I smiled inside my heart, tried to understand and guessing where the destiny will bring me, as I  at that moment , was still waiting for another admission result from KTH The Royal Institute Technology for several weeks after that.

"I don't know. Let’s keep run and move on", I answered my own question, wondered how far the dream have took me. 

So I find the ojek for 5000 rupiahs, tried to catch up the transjakarta bus way at kuningan timur shelter. 

That was Tuesday, 6th April 2010. 
One of the best days in my life, because it  then gave me the greatest and the hardest choice i've ever made.
And yes, It is, I make that choice, and thankful for that.
subahanallah..

Al - Kahfi
Jakarta, 5th May 2010 at 04.00 am
Interview Test part for round 2 of Admission Selection, Secret Program 2010

12.00 GMT+x at 6th May 2010**

Be calm... patient... don’t forget to breath... and keep waiting

Today, I have visited my page in order to check my status in studera.nu. Then I realized that I cannot open that due to processing of result. I just know that now the final result is just about to come out, as my heart like such beating faster than I could handle, this really trigger the great excitement pulse through my blood and mind! *lebay :p*

I wish... I only can make a wish now… as it used to be. But now, it only for what might come... at the end of this week 2 weeks*.

Today, This morning, I just remember one quote from Qur’an when i need to find the answer of my “what if” question. There it is:

"... Might be you really hate something, but that is very good for you. And, might be (too) you really like something, but that is very bad for you. Allah knows and you do not know."  (Al - Baqarah 216)





Subahannallah ya Rabb...

* I've just changed the subject after read carefully again, it will be announced in 12.00 GMT+x at 14th May 2010 guys not 7th May, which means "need longer patient" -May 04, 2010-

** I change the subject again, after read in the correct path *lol*, the announcement will be launched this day dude, 6 May 2010 at 12.00 GMT+x which means today.. insyaAllah…. Bismillah.