Hej Hej

From: honje26
Subject: hai
To: Adek Aidi
Date: Mon, xxx, 2010 at 12:25 PM WIB

sholat & puasa di sana gimana dek? Pakai acuan apa?

--
From: Adek Aidi
Subject: Re: hai
To: honje26
Date: Mon, xxx, 2010 at , 9:31 PM CEST

Aslkm.. halo mas, bagaimana kabar nya dan keluarga ?

Disini summer mulai terasa dingin walaupun matahari bersinar cerah, tapi semilir angin kutup memang lumayan :)

3-4 hari pertama waktu baru datang langit ga pernah gelap, hanya seperti magrip begitu sampai pagi, tapi beberapa hari kebelakang sudah mulai gelap, mungkin pertanda mau masuk autumn dan sudah mulai hujan juga. Katanya nanti november keatas hanya 2-3 jam terang..jadi memang harus dinikmati saja apa yang ada.. :)


Shalat dan puasa alhamdulillah lancar mas, walau sedikit lebih lama, tapi 1-2 hari langsung terbiasa. Imsak mulai kira - kira jam setengah 4 sampai jam 8.30 - 9.00 malam.. jadwal puasa dan shalat ngambil acuan jadwal imsakiyah dari masjid besar.

Best Regards,
Adek Aidi

--
From: honje26
Subject: Re: hai
To: Adek Aidi
Date: Mon, xxx, 2010 at 03.54 PM WIB

kabar baik semua dek, smoga kamu juga

ambil kuliah di mana jurusan apa dek? komunitas mahasiswa dari indonesia banyak ndak?

asyik ya akhirnya bisa menjelajah belahan utara bumi, wish me one day meet u there...

hati2 dan salalu jaga diri dek, semoga semua kebaikan bersama kamu terus. Sukses ya.

--
From: Adek Aidi
Subject: Re: hai
To: honje26
Date: Saturday, xxx, 2010 at 20.48 PM CEST

Assalamualaikum.
Afwan mas, baru sempat reply. 

Aku ambil program namanya Communication Systems mas..udah bosan jadi programmer, dan udah ngiler bisa nyambung ngobrol dengan temen2 telco..jadi pengen pindah belajar seputar jaringan, dari internetworking, telekomunikasi dan wirelless.. ada pilihan untuk belajar enterpreneurship juga..kali2 nanti sudah bosan jadi anak buah orang :)

Sekarang aku tinggal agak di luar stockholm.. nama daerah nya Kista (orang swedia, nyebut nya Shiesta). Kata mereka klo di amerika sana ada silicon valley, maka mereka punya wirelles valey nya. Dan memang benar sepertinya, disini tempat ngumpulnya perusahaan IT sweden, dan mungkin nordic, kantor nya ericsson, tele2, teliasonera, siemens, nokia, oracle, dll ada di sekitar kampus. Mudah-mudahan suatu hari nanti ga cuma bisa mondar - mandir di depan kantor nya, tapi juga bisa masuk kedalam *amin*

Apartemen ku ada di atas mall, xx Galleria namanya. Kebetulan aku dapat apartemen yang dekat sekali dengan kampus ku, kampus IT KTH (gedung nya bisa dilihat dari jendela kamar). Harus selalu sangat bersyukur sekali, karena masih banyak temen- temen diluar sana yang masih belum dapat kamar, padahal sudah sebulan kuliah dimulai. Entah mereka tidur dimana. Dan ada yang dapat jauh sekali, sekitar 2 jam, padahal itu sudah naik subway (orang swedia menyebutnya T-bana / tunnel bana).

Disini banyak sekali imigran terutama dari china, iran, turky, amerika latin dan juga muslim..klo dikelas, bisa mendengar mungkin sekitar 10 bahasa berbeda..kecuali bahasa indonesia, karena ga ada temen ngobrol..haha temen dari indo cuma 1 orang, itupun biasanya kita duduk jauhan supaya bisa dipaksa ngobrol dengan temen dari negara lain :) Awal perkuliahan sedikit sulit untuk berbaur dan mencari rekan kerja karena mayorits pada memilih jalur aman, nyari temen dari negara sendiri. Tapi ku pikir untuk apa kuliah jauh2, klo pada akhirnya hanya akan berkomunikasi, makan, tidur, jalan-jalan dengan orang2 dari kampung sendiri..klo begitu mending ga usah jauh-jauh ke negri orang....jadinya nasipku lebih sering barengan dengan rekan yang sesama single fighter juga! haha..

Temen - temen swedia susah - susah gampang didekati.. mayoritas mereka bergerombol dan menyendiri..bukan sombong, tapi memang karakter nya katanya pemalu. Kata temen - temen, orang swedia kayak gong, klo ga di pukul, ga bunyi :) Hahah.. tapi mereka baik-baik, dan yang paling ku kagumi : JUJUR dan mau membantu. klo dompet, hp ato barang apapun hilang, dan ditemukan oleh orang swedia, besar kemungkinan bakal balik, ga kurang satu apapun.. tapi klo ditemukan sama imigran, ga dijamin..haha.. Dari sana bisa aku pahami, sistem hidup di swedia, mulai dari transportasi, ekonomi, dll dibangun diatas sistem berbasis kejujuran.. kurasa karena faktor ini banyak imigran betah di swedia. 

Anyway, jadi cerita kemana - mana begini aku. 
Tapi terimakasih banyak mas, semoga sukses dan sehat selalu. Salam untuk keluarga dan dara ya mas ! 


Best Regards,
Adek Aidi 

A new day has come


I was waiting for so long, for a miracle to come.
Everyone told me to be strong, hold on and don't shed a tear 
Through the darkness and good times, I knew I'd make it through 
And the world thought I had it all, but I was waiting for you  
Hush, love  
I see a light in the sky 
Oh, it's almost blinding me

I can't believe I've been touched by an angel with love 
Let the rain come down and wash away my tears 
Let it fill my soul and drown my fears 
Let it shatter the walls for a new sun 
A new day has...come 
Where it was dark, now there's light 
Where there was pain, now there's joy 
Where there was weakness, I found my strength
(Celine Dion - A new day has come)


 
View from my room window, Kista - Sweden, 7 o'clock PM CEST

"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami telah menghilangkan darimu bebanmu? yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap." (Al-Insyiroh 1-8) 


Room for Faith


Baru tadi akhirnya nyobain silent room di kampus kista. Well, lumayanunik juga, jadi ga perlu bolak balik ke kamar untuk 5 waktu :)

"Rooms for contemplation areopen for all religions and faiths, available for prayer and meditation.." http://www.kth.se/student/studentliv/kontemplation-1.38373?l=en_UK

"A silentroom means exactly that - you are supposed to keep silent and work on yourcomputer, or else step out." http://wiki.andreineculau.com/KTH.ICT_SU.DSV_Must_Know_(IT)

First Time: Going to Europe


First time of everything.
Pertama kali 'merantau',
Pertama kali packing 28.5kg untuk hidup 2 tahun,
Pertama kali melintas benua,
Pertama kali mampir di Istanbul,
Pertama kali nyampe Stockholm,
Pertama kali beneran nyasar di Eropa,
Pertama kali nge-lihat matahari jam 8 malam,
Pertama kali puasa 17 jam,
Pertama kali melihat gambar-gambar yang sebelumnyacuma bisa dilihat di wiki ato Google Street
Pertama kali.. Alhamdulillah ya rabb..


Professor's nick name


Studying in Sweden means finding privileges that mostly cannot be found in othercountries. 
One of that is: Be able to just call our professors with his/herfirst name or even nick name. 
Oh yeah, and I'm not kidding. 
At the firsttime, it sounds weird and scary, but at the end It feels so good, like you arejust on the right track, not so far away from they are right now, even theygive bunch of things to be done, with 90%-almost-perfectionism rule:p

Marhaban ya Ramadhan


Ramadhan tiba.. 
Marhaban Ya Ramadhan
Ramadhan tiba.. 
Semua bahagia
, tua dan muda bersuka cita

Bulan ampunan, bulan yang berkah
, bulan terbebas api neraka


Andaikan saja Ramadhan semua bulan yang tiba, bulan yang ada

Karena besarnya setiap pahala 
yang di janjikan kepada kita



Marhaban Ya Ramadhan..
Dalam bersahur ada pahala, dalam berbuka alangkah indah

Menahan diri menahan lidah, menjaga hati, menjaga mata


Banyakkan amal hari-harinya, pahala
 datang berlipat ganda

Berlomba-lomba untuk ibadah
 dunia, bahagia surga nanti gantinya



Ramadhan tiba..
Dan semoga setiap jiwa
 diberikan ampunan-Nya

Dan semoga hapus semua
 kesalahan setiap jiwa


Marhaban Ya Ramadhan..
Ramadhan Tiba - opick



Assalamualaikum ya Akhi..ya Ukhti..

 
 Alhamdullilah, Marhaban ya Ramadhan..
Minal Aidin Wal Faidzin.. selamat beribadah Shaum ya..

Reinhold Messner : Murdering The Impossible

Just an old story in my drive, 
but I always get inspired every time I read and read it again. 
A precious story of phenomenal crazy man : a Mountaineer, a True Explorer, a Writer, and an Achievement Maker.
-------------
Ketika anda mengalami kegagalan. Ketika anda kehilangan sosok yang begitu anda cintai. Bisa jadi itu akan melunturkan semangat anda. Bahkan trauma. Seperti Peter Garret dalam film Vertical Limit. Dimana dia begitu trauma. Karena bayangan kegagalan menyelamatkan ayahnya. Karena pada akhirnya dia harus memotong tali pengaman ayahnya dalam pendakian tebing, demi keselamatan dia dan adiknya. Trauma yang luar biasa sehingga membuat Peter seolah kapok dengan dunia pendakian dan mengalihkan diri menjadi wartawan.

Dari begitu banyak orang yang trauma karena kegagalan atau kehilangan orang yang tercinta ada pula yang akhirnya bangkit dari traumanya dan menjadi orang yang sukses hingga namanya terkenal di seluruh dunia. Reinhold Messner adalah salah seorang diantaranya.


Di tahun 1970, Messner bersaudara (Reinhold dan Gunther) berniat menaklukkan Nanga Parbat, sebuah ''puncak terlarang'' dengan ketinggian 8.125 m di atas permukaan laut di rantai Karakoram di ujung barat Himalaya. Puncak ini juga dikenal sebagai the Killer Mountain (Gunung Pembunuh).

Tapi sayangnya dua bersaudara ini tak pernah mencapai puncak Nanga Parbat. Mereka berdua menyerah dan berada di batas kelelahan, kehabisan bekal makanan dan air. Hingga akhirnya di ketinggian itu, Gunther, sang adik pun terkena halusinasi dan menghilang tersapu longsoran salju yang besar. Dan sang kakak, Reinhold harus pulang ke Austria dengan kegagalan dan penuh duka.

Kejadian tersebut sungguh mengguncang Reinhold. Betapa tidak, selain harus kehilangan adiknya serta kehilangan tujuh jari kaki dan beberapa jari tangan akibat frostbite selama pendakian tersebut anggota tubuhnya, Ayahnya dan semua anggota keluarga menyalahkan dirinya atas hilangnya sang adik.

Namun itu belum seberapa, karena Dua pendaki lainnya, Max von Kienlin dan Hans Saler yang ambil bagian pada pendakian itu malah memberi kesaksian dalam buku yang diterbitkan di Jerman bahwa Reinhold telah menyuruh adiknya menuruni sisi Rupal, bagian curam yang berbahaya di gunung itu. Padahal kedua kakak beradik itu, kata mereka, hampir mati saat mendakinya. Reinhold, kata mereka juga, dengan teganya meninggalkan sang adik yang dalam keadaan sakit itu dengan memaksanya turun. Menurut Von Kienlin dan Saler, Reinhold sendiri memilih turun melewati rute berbeda yang baru di sisi barat Diamar karena ia ingin menjadi orang pertama yang turun lewat jalur ini. ''Akibatnya,'' tulis mereka, ''Messner mengorbankan adiknya untuk ambisinya sendiri.''

Betapa semakin terguncang Reinhold kala itu, dia mengalami kegagalan, kehilangan adik yang dicintai juga dihakimi oleh orang-orang disekitarnya. Akhirnya kejadian tersebut, membuat Reinhold menutup dirinya selama setahun.. Hingga pada akhirnya diapun kembali tersadar, bahwa dia bisa melakukan lebih dari hanya sekedar menyesal. Reinhold pun kembali bangkit. Dia kembali ke dunia pendakian. Dia melawan semua trauma. Dia acuhkan semua suara suara sumbang di sekitarnya. HIngga akhirnya di tahun 1973, Reinhold kembali ke Nanga Parbat. Walau dalam pendakian ini, Reinhold masih belum berhasil mencapai puncak. Namun dia telah berhasil menaklukkan dirinya sendiri atas kesalahan dan kegagalan masa lalu.

Upayanya menjadi luar biasa terus ia asah, Pada 8 Agustus 1975, Messner dan Habeler memulai pendakian. Keduanya tak bawa tali, tabung oksigen dan hanya berbekal alat panjat pribadi. Hari kedua, mereka tiba di bawah dinding es curam setinggi 1.000 meter. Kemah berikut berdiri setelah lewat dinding tersebut. Reinhold Messner dan Habeler pun melakukan pemanjatan kilat.

Usai pemanjatan gila-gilaan itu, keduanya terserang rasa lelah yang hebat. Saking capeknya, memasang tenda pun terasa sangat sulit. Apalagi acara makan tak ada dalam agenda pendakian. Hari berikutnya, mereka meninggalkan perlatan dalam tenda. Penyerangan puncak (summit attack) dilakukan dengan hanya membawa kapak es (ice axe), crampoons, kamera dan peralatan medis.

Pada hari yang sama, kedua pendaki handal ini meraih puncak. Peter Habeler tiba lebih dulu. Messner menyusul beberapa menit kemudian. Seperti lazimnya pendaki, Messner mengabadikan Habeler saat berada di puncak. Asyiknya, cuaca amat cerah dan mereka pun berpelukan. Wow!

Hingga akhirnya Sejarah itu terjadi pada Mei 1978. Messner, menebus kegagalan yang pernah dialami dengan adiknya. Messner dan Habeler mendaki puncak lewat South Col. Mereka mendaki tanpa membawa tenda dan tentu saja, tanpa tabung oksigen. Tantangan alam yang amat berat, mampu dilewati.Selain latihan yang serius, keduanya punya ikatan yang kuat sebagai tim pendaki. Tanpa berbicara, mereka terus mendaki menuju puncak. Kadang-kadang, mereka saling berpandangan, melihat badan dan pikiran masing-masing.

Sebelumnya, kawan-kawannya di Austria mencelanya. Karena itu adalah perjalanan yang sulit. Bahkan ayahnya mengatakan dia gila. Juga para ilmuwan saat itu memperkirakan bahwa pada ketinggian diatas 8000m diatas laut, tanpa oksigen tambahan manusia akan kehilangan control fikirannya. Bahkan Habeler, kawan pendakiannya sempat khawatir dengan serangan oksigen tipis di ketinggian yang dapat berakibat kerusakan otak dan kehilangan memori. Namun, dia dan Messner akhirnya mampu mencapai puncak. Habeler mengaku sangat letih secara fisik, namun hasrat memuncak yang begitu tinggi mampu mengalahkan segala. Karena takut terkena kerusakan otak, Habeler turun ke South Col hanya dalam waktu satu jam saja. Ia meluncur dengan kapak esnya.

Kisah petualangan pria kelahiran desa Villnos, Italia Selatan 17 September 1944 tak berhenti sampai di situ. Pada tahun yang sama, Messner meraih puncak Nanga Parbat (8.125 meter/26.660 feet) tanpa bekal tabung oksigen. Bagi para pelaku pendakian gunung, prestasi itu seolah tenggelam. Mereka justru penasaran dengan pendakian solo Messner dalam usaha mencapai puncak gunung yang ada di wilayah Pakistan itu. Ia mencapai puncak nomor sembilan hanya dalam waktu 12 hari.

Dua tahun kemudian Messner kembali menciptakan sensasi. Pada 18-21 Agustus 1980, Messner sukses membuat rekor di Everest: mendaki solo dan tanpa tabung oksigen. Ia mulai mendaki sendiri dari advanced base camp di sisi utara.

Pada hari ketiga – dengan diliputi keletihan, Messner mampu berdiri di titik 8.848 meter itu. Meraih puncak seorang diri, Messner pun terduduk dan menangis. Hanya itu yang dapat dilakukannya. Saat tiba di kemah, Messner berucap terbata-bata, ”Saya tak dapat mengulanginya lagi. Saya telah mencapai batas kemampuan saya. Dan saya merasa bahagia.”

Reinhold tidak saja dikenal sekedar menjadi penakluk Mount Everest, Himalaya, semata. Namun juga, namanya diabadikan di dalam sejarah dunia sebagai pendaki pertama di dunia yang menaklukkan mount Everest tanpa Oksigen tambahan atau lebih dikenal dengan gaya Alpina. Dengan kesuksesannya tersebut dia juga mencatatkan namanya di Guinness Book of World Record sebagai Penakluk 14 Puncak gunung diatas 8000m, sukses melintasi benua Antartika dengan jalan kaki selama 92 hari via the South Pole sejauh 2.800 km. Dan tahun berikut, melintasi gurun Takla Maran, lalu ekspedisi ke Greenland sejauh 2.200 km.

“Dalam pendakian gunung, kamu tidak bisa menjadi orang lain, tetapi kamu akan menjadi dirimu sendiri” tutur Reinhold ketika ditanya tentang kesuksesannya sebagai pendaki gunung ternama. “Saya adalah orang pertama di dunia yang menaklukkan 14 puncak tertinggi di dunia, tanpa oksigen tambahan. Saya tidak pernah mempertanyakan berapa tinggi gunung yang akan saya daki, akan tetapi bagaimana saya menaklukkan gunung tersebut.”

Reinhold Messner, adalah salah satu contoh sosok manusia di dunia yang mampu me-recover dirinya dari kegagalan yang pernah ia alami. Hingga akhirnya ia pun menjadi orang yang sukses dalam catatan sejarah pendakian gunung dunia. Dia tidak pernah menghakimi orang-orang yang pernah mencelanya di masa lalu. Bahkan ketika kebenaran itu terkuak 35 tahun dimana di tahun 2005 jasad Gunther adiknya ditemukan dalam keadaan seperti pengakuan Reinhold, tersapu dan tewas dibawah longsoran salju. Dia tidak banyak bicara untuk meyakinkan bahwa dia tidak berdosa, cukup waktulah yang menguak kebenaran sesungguhnya.

Kegagalan dalam kehidupan adalah hal yang biasa. Namun bagaimana kita menjadi sosok yang luar biasa dengan bangkit dan kembali sukses daripadanya.

Main source taken from: Bangkit Menuju Kesuksesan. A Setiawan
Pictures taken from:  sini, sini, dan sini